Rabu, 18 Juli 18

Beda Agama dalam Satu Band itu Biasa, Catatan untuk Joshua Suherman

Beda Agama dalam Satu Band itu Biasa, Catatan untuk Joshua Suherman
* Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibawa Satria.

Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial, Direktur Eksekutif Komunikonten

 

Mungkin tulisan ini sensitif, sama halnya dengan materi lawakan dari Komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Sesuai judulnya, saya membahas materi stand up comedy Joshua yang menuai kekecewaan dan pembelaan

Semua paham, beda agama dalam satu grup musik, girl band, boy band adalah hal biasa saja, itulah Indonesia, itulah dunia. Dewa 19 misalnya, tidak pernah Ahmad Dhani berfikir vokalis Dewa 19 harus seagama dengannya. Agama bukanlah syarat menjadi vokalis, tapi suara dan kemampuan lainnya.

Seperti organisasi lainnya, di grup musik, girl band, boy band pasti juga ada rapat, manajer, pimpinan, perencanaan, evaluasi dan tentunya persaingan. Untuk grup musik persaingannya setahu saya bukan antar gitaris dengan vokalis dalam satu grup, melainkan antar gitaris sebuah grup musik dengan gitaris grup musik lainnya.

Misalnya persaingan antar gitaris Slank dan Dewa 19, inipun belum tentu yang bersangkutan merasa bersaing. Kadang pemberitaan media, berbagai penghargaan, komentar kita di media sosial yang menimbulkan persaingan, atau mungkin perasaan kita saja sebagai penggemar atau penikmat. Yang pasti persaingan itu lebih banyak positifnya.

Bagaimana dengan persaingan antar personil di boy band dan girl band, terus terang saya kurang paham. Yang saya tahu setelah memperhatikan di media sosial, justru yang ramai itu penggemar.

Misalnya dari 10 personil girl band, ada yang mengidolakan si A, ada yang lebih suka si B, ribut dan berdebatlah mereka.

Materi ribut-ribut asyik ini juga soal suara, paras, penampilan, dll, bukan agama. Manajemen dari girl band sepertinya juga menikmati saja perdebatan warganet tersebut, biasalah.

Nah, tiba-tiba hal ini menjadi serius ketika Joshua Suherman saat stand up comedy mengatakan, saya kutip lengkapnya: “Dan yang gue bingung adalah Cherly ini walaupun Leader, dia gagal memanfaatkan kepemimpinannya untuk mendulang popularitas untuk dirinya sendiri, terbukti jaman dulu semua laki-laki tertujunya pada Annisa. Annisa, Annisa.. semuanya Annisa. Skill nyanyi, ya tipis-tipis ya kan. Skill ngedance ya tipis-tipis. Cantik, relatif ya kan. Kenapa gue mikir? Kenapa Annisa selalu unggul dari Cherly. Haah sekarang gw ketemu jawabannya. Makanya Che.. Islam. Karena di Indonesia ini ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun Mayoritas, mayoritas. Saya Joshua Suherman.”

Beragam respon terhadap materi lawakan yang disampaikan Joshua ini, ada yang melaporkan ke polisi, ada yang membela. Yang menarik respon dari Komika Pandji Pragiwaksono dan Komika Ernest Prakasa. Menurut Pandji lewat akun twitternya, untuk sebuah konten sensitif seperti soal agama yang akan disampaikan di Juru Bicara, persiapan bisa enam bulan, tidak dadakan, itupun masih ada yang tersinggung.

Sementara Ernest di sebuah media mengatakan “apapun yang kita omongin, ya kita harus siap bertanggung jawab. Dari sejak awal karir, itu prinsip yang gua pegang”, kata Ernest.

Bolehkah Menyindir Mayoritas?

Jelas yang dimaksud Joshua dengan mayoritas dalam materinya lawakannya adalah umat Islam. Kenapa ada yang tersinggung? Saya melihat beberapa hal.

Pertama, contoh yang dikemukakan Joshua memang berlebihan, meskipun berlebihan itu sah-sah saja dalam lawakan. Penikmat, penggemar musik Indonesia itu dewasa kok, buktinya di Indonesia lebih banyak yang menggemari Justin Bieber yang beragama Kristen ketimbang Maher Zain yang Islam. Beberapa indikatornya dari respon warganet di medsos terhadap keduanya, jumlah penonton saat keduanya konser di Indonesia, juga dari intensitas pemberitaan terkait Justin dan Maher Zain.

Di dunia olahraga juga begitu, lebih banyak penggemar Lionel Messi ketimbang Mezut Ozil di Indonesia. Kalau mengikuti alur berfikir Joshua maka seharusnya di Indonesia liga Arab Saudi yang banyak penggemarnya, kenyataannya disini justru liga spanyol dan liga Inggris.

Apakah ada fans yang suka idolanya karena agamanya?, pasti ada dong, dan di seluruh duniapun ada seperti itu, tapi saya pastikan lebih banyak karena prestasi dan produktifitasnya. Jadi pernyataan Joshua bahwa Annisa lebih Unggul dari Cherly karena Annisa beragama Islam merupakan kesimpulan prematur, dan menurut saya kurang lucu. Ini bahkan bisa membangkitkan situasi psikologis yang tidak menguntungkan antara penyanyi dan penggemar. Terlebih untuk apa mengungkit beda agama dalam sebuah girl band.

Kedua, Joshua juga mengatakan “Karena di Indonesia ini ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun Mayoritas, mayoritas”. Ada pesan dalam kalimat itu bahwa mayoritas selalu menang tanpa modal apapun kecuali mayoritas itu sendiri. Karena yang dimaksud Joshua dengan mayoritas itu adalah Islam, dan karena pernyataan Joshua ini berbau politik, maka saya yakin Joshua akan meralat kesimpulannya jika membaca sejarah politik di Indonesia. Joshua juga akan meralat kesimpulannya jika bersedia membaca data-data dari lembaga survei yang kredibel.

Soal Indonesia yang mayoritas umat Islam, saya selalu teringat ungkapan Guru saya, KH. Hasyim Muzadi, saya sebut guru karena kami satu almamater. Beliau bilang bahwa umat Islam di Indonesia ini paling toleran di dunia, begini lengkapnya kata beliau “Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara Muslim mana pun yang setoleran Indonesia,”. Jadi kepada Joshua, sudahlah jangan dipancing-pancing lagi situasi yang sudah damai dan asyik ini.

Kembali ke pertanyaan di sub judul diatas, bolehkah menyindir mayoritas?, sangat boleh, dan memang perlu dikritik atau disindir menurut saya. Tinggal data dan caranya saja, memang tidak mudah membuat sindiran sehingga yang tersindir tertawa juga. Disinilah pernyataan senior komika Pandji Pragiwaksono tentang ia menyiapkan materi sampai enam bulan menemukan relevansinya.

Misalnya, seorang komika melihat ada fakta bahwa mayoritas di Indonesia adalah orang Islam, namun dari 10 orang terkaya tersebut lebih banyak yang tidak beragama Islam. Bagaimana cara menyampaikannya, Jika disampaikan normatif saja tentu semua orang bisa. Namun bagaimana menyampaikannya di panggung stand up comedy, sehingga orang merasa tersindir namun tidak merasa dihina, dilecehkan atau dinista agamanya, ini sangat-sangat tidak mudah, perlu jam terbang, dan butuh kecintaan yang tulus terhadap target yang akan disindir.

Jadi, untuk menjadi seorang komika sekaligus kritikus memang butuh kerja keras. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa mereka yang punya rasa humor tinggi memiliki IQ atau kecerdasan diatas mereka yang kurang rasa humornya. Otak seorang komika bekerja sangat cepat dan sangat keras di depan penonton, bahkan mohon koreksi jika saya keliru, mungkin saat dipanggung lebih sulit dari bernyanyi. Meskipun perbandingan ini tidak setara.

Memang menjaga ucapan di depan kamera lebih sulit ketimbang menjaga unggahan di medsos. Bicara di panggung stand up comedy sifatnya langsung, waktu berfikirnya sedikit. Ini berbeda dengan mengunggah sebuah konten di media sosial, kita ada waktu panjang untuk berfikir, dan bertanya dalam hati atau ke orang lain, “apakah konten yang saya unggah ini benar dan manfaat?”. Sebab itu, untuk saya dan kita semua pengguna medsos, mereka yang terbiasa di depan kamera saja bisa salah ucap, apalagi kita, karenanya kita harus lebih hati-hati lagi.

Kemudian soal saran agar Komika jangan membahas topik agama saya rasa juga kurang tepat. Komika bebas saja saja membahas topik apapun, yang penting seperti kata Pandji di akun twitternya, persiapannya harus matang. Selain itu Komika yang akan membahas topik sensitif sebaiknya berkonsultasi dengan senior Komika yang lebih berpengalaman.

Terakhir, kita tentu mendukung upaya menjadikan panggung stand up comedy sebagai ajang kritik sosial untuk Indonesia lebih baik. Sebenarnya sebelum Ge Pamungkas dan Joshua sudah banyak sekali komika Indonesia yang melakukannya dengan baik dan berdampak positif, sebut saja Abdurrahim Arsyad, Iwel Sastra, Cak Lontong, Arie Kriting, Pandji, Indra Jegel, dan banyak sekali nama lainnya. Mungkin Joshua dan Ge Pamungkas terinspirasi dari mereka, namun persiapan keduanya kurang.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.