Senin, 11 Desember 17 | 12:42 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Serius, Pendidikan Agama Dihapus?

Serius, Pendidikan Agama Dihapus?

 

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali mengagetkan anggota Komisi X DPR RI yaitu dihapuskannya pendidikan agama di sekolah.

Dengan wacana mendikbud dengan sekolah 5 hari, serta pendidikan agama dilakukan di luar sekolah apakah akan membawa kebaikan bagi siswa? Kami amati hal itu terlalu prematur berharap munculnya kebaikan dan perubahan lebih baik.

Berikut beberapa alasannya:

1. Kurikulum ini akan berjalan mulai tahun ajaran 2017/2018, pertanyaannya apakah tenaga pendidikan sudah terlatih dengan kurikulum baru?

2. Evaluasi hasil pendidikan baru bisa dilakukan tahun 2018, untuk perbaikan tahun berikutnya 2018/2019. Jika baru 1 tahun berjalan apakah ada tahun perbandingan hasil pendidikan ? Tidak ada kan?

3. Tahun 2019 adalah pesta demokrasi rutin, kalau rezim ini menang maka kurikulum kemungkinan bisa berlanjut, jika rezim kalah maka kurikulum kemungkinan besar juga berganti.

4. Minimnya pendidikan agama membuat manusia mengalami disorientasi tujuan hidup, hal ini juga menjadi faktor dismotivasi dalam belajar.

5. Tingginya angka kriminalitas yang dilakukan anak usia belasan tahun menjadi salah satu indikasi kegagalan sistem pendidikan berbasis dikotomi agama dan kehidupan

6. Untuk generasi penerus kita, janganlah gegabah bereksperimen. Buat anak kok coba-coba.

Janganlah mencoba-coba melakukan dikotomi pendidikan agama dan teknologi, terlebih agama Islam yang mempunyai misi membawa rahmatan lil’alamin. Bagaimana mungkin konsep rahmatan lil’alamin mengerem kemajuan sains dan teknologi. Pendidikan agama nasibmu kini. Entah nanti.

 

Jakarta, 14 Juni 2017
Oleh Imam S. Bahar (Group Riset dan Strategis-GRESS)

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *