Senin, 25 Juni 18

Di Tangan Iwan Setiawan, Sritex Semakin Besar

Di Tangan Iwan Setiawan, Sritex Semakin Besar
* Chief Executive Officer (CEO) PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) Iwan S Lukminto. (Foto/Dok SINDOphoto)

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil di Baturono, Solo, Jawa Tengah, didirikan oleh almarhum HM Lukminto pada tahun 1966. Inilah salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yang terus berkibar. Produknya telah menembus ke 100 negara yang tersebar Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika.

 

Sejak 2006 Sritex ditangani oleh generasi kedua, Iwan Setiawan Lukminto. Di bawah kendali Iwan perusahaan ini semakin berkembang pesat. Ia mampu membawa Sritex menjadi perusahaan lima kali lebih besar daripada sebelumnya.

Sritex mencatatkan peningkatan kinerja positif pada kuartal ketiga 2017, dengan menunjukkan peningkatan nilai penjualan kotor sebesar 15% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Atau dari dari US$498,6 juta menjadi US$572,6 juta.

Perusahaan juga mencatatkan peningkatan kinerja sektor finansial lainnya seperti laba bersih, kenaikan laba operasional, keuntungan bersih dan kenaikan nilai Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA) hingga kuartal ketiga tahun 2017, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Nilai laba bersih perusahaan hingga kuartal ketiga tahun ini meningkat sebesar 14% dari US$41,3 juta menjadi US$47,2 juta jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba operasional perusahaan hingga kuartal ketiga tahun 2017 juga mengalami peningkatan sebesar 25% dari US$79,6 juta menjadi US$99,1 juta.

Peningkatan nilai penjualan perusahaan dipicu oleh peningkatan penjualan perusahaan untuk produk benang, kain dan garmen yang masing-masing mengalami peningkatan sebesar 9%,  26%, dan 20% hingga kuartal ketiga 2017.

Sritex memfokuskan penjualan pada produk-produk bernilai jual tinggi. Sedangkan untuk sektor industri pemintalan lebih difokuskan kepada pemenuhan kebutuhan internal perusahaan untuk produksi pesanan kain dan garmen.

Kontribusi nilai penjualan produk kain dan garmen perusahaan hingga kuartal ketiga 2017 memberikan kontribusi sebesar 52% dari total nilai penjualan. Kontribusi ini meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sekitar 49%.

Peningkatan profit margin dan angka EBITDA perusahaan hingga kuartal ketiga 2017 dipicu oleh perbaikan efisiensi produksi perusahaan yang berkontribusi pada peningkatan margin produk.

Belanja modal perusahaan hingga kuartal ketiga 2017 mencapai US$22,8 juta. Angka ini sudah sesuai dengan target perusahaan yang totalnya mencapai US$25 juta untuk 2017.

“Kinerja positif perusahaan tersebut dipicu oleh penerapan beberapa strategi perusahaan, antara lain normalisasi kapasitas produk baru, efisiensi operasional dan produksi, serta inovasi produk bernilai tambah,” jelas Iwan.

Chief Executive Officer (CEO) Sritex ini dilahirkan di Solo, 24 Juni 1975. Suami Megawati Budiono dan ayah tiga anak ini lulusan Studi Business Administration Suffolk University, Boston, Amerika Serikat.

Prinsp yang diterapkan Iwan sangat sederhana dalam menjalankan roda bisnisnya, yakni mencintai pekerjaan dan jangan dijadikan beban.

“Karena dimulai dengan cinta atau istilah orang Jawa diawali dengan witing trisno jalaran soko kulino akhirnya bisa menjalankan sampai sekarang. Karena cinta itu no limit,” katanya.

Bagi Iwan sukses tidak semata-mata diukur dari materi, namun dapat bermanfaat untuk banyak orang. Sampai sekarang di luar kegiatan bisnis masih ia menjaga persahabatan dengan teman-teman semasa sekolah di Solo. Hubungan dengan teman-temannya masih terjaga dengan baik sampai saat ini.

Iwan mengaku menjadi sukses seperti saat ini tidak terlepas dari sosok sang ayah, Lukminto. Baginya sebagai orang tua Lukminto telah berhasil mendidik dirinya untuk belajar banyak hal tentang kehidupan.

“Ayah saya saya selalu bilang pertama teach me, you will forget, show me you way remember, dan involve me, you will understand. Nah, ayah saya pintar sekali di involvement-nya sangat kuat. Sebab itu saya jadi fast learner juga semuanya,” papar Iwan.

Iwan mengenal bisnis sejak kecil umur 3-5 tahun. Ketika ayahnya berjualan di Pasar Klewer Solo, dia pun ikut mengalami.

“Jualan membuat lem kain dan saya ikut mencoba pun saya mengalami. Ketika salah ayah saya mendiamkan saya karena itu merupakan proses belajar,” kisahnya.

Lalu besar sedikit, dia sering diajak ikut rapat. Dari ikutan rapat inilah Iwan mengaku dari yang tidak mengerti akhirnya bisa paham banyak hal. Hal ini dilakukan hingga menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.

“Proses belajar yang diajarkan ayah saya itu  penting untuk menyadari sensitivitas, di situ, karena legacy ayah saya di situ. Bahkan di situ ayah saya sudah mencatat dalam bukunya Manajemen Cengli. Cengli itu sebagai tindakan fair dan saling menguntungkan,” ujarnya.

Di manajemen Cengli, menurut Iwan, ayahnya  juga memberikan pesan bagaimana pentingnya keluarga, agama,  moralitas dan pertemanan. Untuk itulah, dia juga merasakan kesuksesan yang didapat juga tidak terlepas dari peran keluarga.

Pada periode 1997-1998 Iwan menjadi Assistant Director Sritex. Kemudian menjadi Vice President Director Sritex pada periode 1999-2005. Sejak tahun 2006 hingga sekarang Iwan menduduki kursi Presiden Direktur Sritex.

Tahun 2015 Iwan meluncurkan buku Inovasi Tanpa Henti untuk Indonesiaku. Buku yang ditulis oleh Dr. Nasir Tamara, MA, MSc. ini terdiri dari 14 bab dengan tebal 400 halaman. Buku ini menyajikan sekilas mengenai latar belakang Iwan, dan bagaimana ia dapat menjalankan roda perusahaan hingga saat ini melalui strategi dan kiat-kiat berbisnis di dunia tekstil dan garmen.

“Sukses bukanlah suatu kerahasiaan. Melalui buku ini, saya ingin menyampaikan kita harus berbagi strategi kesuksesan. Saya percaya bahwa bangsa ini adalah bangsa yang baik, berideologi baik, dan taat pada Pancasila. Dengan berbagi kiat-kiat sukses akhirnya juga akan membawa perusahaan kami agar lebih maju”, tandasnya.

Buku ini terbit dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Buku ini diharapkan dapat memberikan efek optimisme terhadap generasi muda melalui figur Iwan, sehingga dapat mengangkat Indonesia untuk lebih maju lagi. (arh)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.