Minggu, 19 Agustus 18

Nuruzzaman Keluar Saja dari Gerindra, Tak Perlu Bawa Isu SARA

Nuruzzaman Keluar Saja dari Gerindra, Tak Perlu Bawa Isu SARA
* Politisi Partai Gerindra Nuruzzaman.

Jakarta, Obsessionnews.com – Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade mengaku tidak ada niat wakil ketua umumnya, Fadli Zon, menghina Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, terkait lawatan ke Israel.

Menurutnya, yang dilakukan Fadli hanyalah mengkritisi sikap Yahya Cholil yang mau menghadiri acara Israel di Yerusalem. Sebagai negara yang menolak penjajahan Israel terhadap Palestina, kunjungan itu dianggap tak pantas, dan melukai masyarakat Indonesia.

“Bang Fadli kan tidak menghina kiai. Yang disampaikan adalah beliau mengkritisi seorang pejabat negara, (anggota) Wantimpres, datang ke suatu negara, penjajah, yang selama ini kita punya kebijakan yang beda,” ujar Andre saat dihubungi, Rabu (13/6/2018).

Hal itu disampaikan Andre sekaligus menanggapi Muhammad Nuruzzaman yang hengkang dari Gerindra lantaran cuitan Fadli soal kunjungan Yahya ke Israel. Nuruzzaman menganggap cuitan Fadli bernada menghina. Sebelumnya, Nuruzzaman menjabat Wakil Sekjen Gerindra.

Ia justru menilai janggal sikap Nuruzzaman. Semestinya, kata Andre, jika ingin keluar dari partai, Nuruzzaman cukup mengirimkan surat pengunduran diri ke partai. Tak perlu menyebar isu Fadli menghina kiai NU.

Sebab, lanjut Andre, itu merupakan mekanisme pengunduran diri secara resmi, bukan malah mengirim surat terbuka yang kemudian disampaikan ke publik. Apalagi sampai menyebarkan hoaks bahwa Gerindra memproduksi isu SARA di Pilkada DKI Jakarta.

“Nuruzzaman kalau mau mengundurkan diri kan silakan, itu hak beliau. Tapi tolong jangan menyebarkan hoaks. Menuduh Partai Gerindra memainkan isu SARA di pilkada DKI itu kan enggak benar,” lanjut dia.

Nuruzzaman sebelumnya memutuskan hengkang dari Partai Gerindra karena tak terima kiainya, Yahya Cholil Staquf, dihina saat menjadi pembicara di Israel.

Nuruzzaman merasa Fadli Zon telah menghina melalui cuitannya di twitter ihwal kehadiran Yahya sebagai pembicara di forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) terkait konflik Israel-Palestina.

“Ya, ini sebagai bentuk respons santri kepada kiainya sebenarnya. Jadi ini santri NU yang merespons ketika ada orang yang menyerang kiainya,” ucap Nuruzzaman saat dihubungi.

“Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah, sesuatu yang Pak Prabowo (Subianto) tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja,” lanjut Nuruzzaman.

Sebenarnya, ada masalah lain yang menjadi pertimbangan Nuruzzaman keluar dari Gerindra, yakni ketika pertarungan di Pilkada DKI. Ia menilai, Gerindra berkontribusi dalam memproduksi isu SARA sepanjang Pilkada Jakarta berlangsung.

Masalah lain, sikap Gerindra yang menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Ormas untuk disahkan menjadi undang-undang.

Ia mengatakan, sebagai kader NU, sudah semestinya ia mendukung Perppu tersebut namun ternyata bertentangan dengan sikap partai.

“Oleh sebab itu, saya sudah berfikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontibusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodir. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas,” ujar dia. (Albar)

 

Baca Juga:

M Nuruzzaman Mundur dari Gerindra, Ini Suratnya yang Ditujukan ke Prabowo

Gerindra Panik Belum Punya Tiket Capres?

Gerindra Tak Jamin Cawapres Prabowo dari PKS

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.