Selasa, 12 Desember 17 | 06:09 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Photo Credit To M. Natsir, mantan Ketua Umum Partai Masyumi.

Renungan Kemerdekaan M. Natsir, Mantan Pemimpin Partai Masyumi

 

KITA menghadapi satu pekerjaan dan tugas besar dalam riwayat bangsa kita. Bangsa kita sedang menulis sejarahnya dalam lingkungan sejarah dunia.

Banyak yang kurang dalam Republik kita ini. Banyak cacat-cacatnya. Banyak yang tidak puas melihatnya. Akan tetapi dengan segala cacat yang melekat pada Republik ini, kita harus terima Republik ini dengan rasa syukur nikmat. Bagi umat Islam, mensyukuri nikmat itu adalah suatu kewajiban.

Bersyukur nikmat artinya ialah menerima dengan insaf apa yang ada, dengan segala kandungannya berupa kelemahan dan kekuatan yang terpendam di dalamnya. Diterima dengan niat untuk memperbaiki.
Dan bukanlah bersyukur nikmat namanya, bila sudah melihat barang yang ada di tangan itu banyak cacat-cacatnya, lalu dilempar atau dibumihanguskan kembali.

Kita tidak mau menjadi orang yang kufur nikmat. Kita terima Republik Indonesia ini demikian, maka marilah kita pelihara, kita kuatkan, dan kita tumbuhkan ia dari dalam dengan segala dasar-dasar yang baik untuk pertumbuhan yang sehat seterusnya.

Bagaimana Mungkin Menghilangkan Keindonesiaan Kita?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa satu ajaran untuk memberantas apa yang dinamakan ta’asub atau yang sering kali disebut orang sekarang dengan istilah fanatik. Fanatik di dalam paham, fanatik di dalam membela kaum dan bangsa.
Sering kali orang menyangka, Islam bertentangan dengan adanya bangsa-bangsa. Islam, katanya, memungkiri adanya bangsa-bangsa. Seolah-olah orang yang memeluk Islam itu tidak ada bangsanya lagi.

Yang demikian itu tidak betul! Kita dapat menjadi seorang Muslim yang taat, yang dengan riang gembira menyanyikan “Indonesia Tanah Airku.”

Bagaimana kita akan menghilangkan keindonesiaan kita, karena Tuhanlah yang menjadikan kita berbangsa-bangsa.
Kita harus berbahagia dan bergembira memperlihatkan kepada dunia luar, inilah bangsa kami, bangsa Indonesia. Bahasa kami demikian. Kebudayaan kami demikian. Tulisan batik kami demikian. Ukiran kami demikian. Musik kami demikian.

Tidak ada perlunya seorang Muslim harus meninggalkan kebangsaan dan kebudayaannya. Ini adalah fitrah. Natuur, kata orang sekarang.

Panggilan Allahu Akbar
Berjuta-juta bangsa kita, laki-laki dan wanita, tua dan muda, masih ingat seruan Bung Tomo dari Radio Surabaya. Ia memanggil para alim ulama, para kiai, di seluruh Indonesia dengan panggilan “Allahu Akbar!”

Kita menghargai tinggi, karena ada seorang pemuda pahlawan sebagai Bung Tomo itu. Ia bukan saja berani tampil ke muka memimpin perjuangan, tetapi ia juga mempunyai pengetahuan di mana terletaknya kunci daripada kekuatan bangsa ini. Dibukanya kunci hati umat yang banyak itu dengan perkataan: “Allahu Akbar!”

Bung Tomo tahu mencari teman. Tahu pula dia siapa-siapa teman yang dapat membangunkan tenaga dan menggelorakan tenaga itu. Dicarinya teman itu di antara para penuntun rohani yang tidak pernah kelihatan namanya di surat-sutat kabar, dan tidak pernah tercantum di dalam daftar pemimpin partai-partai politik.
Dipanggilnya dan diserunya: “Mari kita sama-sama membuka kunci hati umat dengan kalimat ‘Allahu Akbar!’.”

Rasialisme Penyakit Besar
Rasialisme adalah salah satu sumber penyakit dunia yang menimbulkan peperangan demi peperangan.
Seorang sejarawan masyhur kelahiran Inggris, Prof. Toynbee, dalam Civilization on Trial (Ancaman terhadap Kebudayaan) mengatakan: “Dunia sekarang mempunyai dua penyakit yang belum dapat orang mencarikan obatnya. Penyakit itu ialah rasialisme dan alkohol.”

Menurut Toynbee, kalau ada satu sistem yang dapat menghancurkan rasialisme dan alkohol, sistem itu hanyalah Islam.
Toynbee bukan seorang Muslim. Dia seorang Kristen. Sebagai seorang ahli pengetahuan, seorang saintis, Toynbee hanya melihat fakta demi fakta, menganalisa keadaan demi keadaan.
Toynbee dengan terus terang berkata seperti itu.[]

Disarikan dari tulisan M. Natsir “Revolusi Indonesia” dimuat dalam Capita Selecta 2, 174-196.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *