Senin, 18 Desember 17 | 21:26 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Mengenang Si Raja Kungfu Bruce Lee

Mengenang Si Raja Kungfu Bruce Lee
* Si raja kungfu Bruce Lee meninggal dalam usia muda, 33 tahun, pada 1973.

Jakarta, Obsessionnews.com – Para penggemar film kungfu di era 1970-an tentu masih ingat pada si Bruce Lee.  Masyarakat mengenangnya sebagai ahli seni bela diri kungfu dan aktor yang mempopulerkan kungfu melalui film ke seluruh dunia.

Film-film yang dibintangi si raja kungfu tersebut yang terkenal adalah The Big Boss pada tahun 1971, The Way of the the Dragon (1972), dan Enter the Dragon (1973).

 

Di saat kariernya meroket ajal menjemputnya. Bruce Lee meninggal dunia dalam usia muda, 33 tahun, karena sakit.  Ia meninggal dunia pada 20 Juli 1973.

Bruce Lee lahir di San Francisco, Amerika Serikat (AS), 27 November 1940.  Ulang tahunnya ke-77 menjadi trending topic di media sosial Twitter wilayah Indonesia pada Senin (27/11/2017). Pantauan Obsessionnews.com pada hari ini pukul 11.42 WIB terdapat 2.774 tweet tentang Bruce Lee.

Berikut  tweet dari beberapa netizen:

 @shariqqazi6: Happy Birthday Sir Bruce Lee The King Of Martial Arts.

 @CantonKwong: We remember you, Bruce Lee.

@FactMorning:  Gerakan Bruce Lee sangat cepat sehingga mereka harus melambatkan film agar kita bisa melihat semua gerakannya.

@AbigailT238: Bruce Lee mempopulerkan teknik one inch punch, yaitu tinju dari jarak 1 inci.

 ***

Dikutip dari Wikipedia Bruce Lee  menjalani masa kecil hingga remaja di Hong Kong, kemudian berkarier di AS. Ayahnya bernama Lee Hoi Chuen dan ibu bernama Grace Ho. Ia punya dua orang kakak perempuan bernama Phoebe dan Agnes, seorang kakak laki-laki bernama Peter, dan seorang adik laki-laki bernama Robert. Lee Hoi Chuen adalah seorang seniman Opera Kanton sekaligus pemeran dalam film-film berbahasa Kanton. Keluarga Lee sedang mengadakan tur pertunjukkan opera ke Amerika Serikat ketika putra mereka lahir. Anak itu diberi nama Bruce Lee Jun Fan. Pada usia 3 bulan, Bruce Lee dibawa keluarga pulang ke Hong Kong. Di sini Bruce tinggal sampai berusia 18 tahun.

Bruce Lee
Bruce Lee mempopulerkan seni bela diri kungfu melalui film ke seluruh dunia.

Masa kecil Bruce bersamaan dengan periode pendudukan Jepang di Hong Kong pada masa Perang Dunia ke-II (1941-1945). Pada saat itu keluarga Lee tinggal di Jalan Nathan, Kowloon, berdekatan dengan kamp militer tentara Jepang. Setelah perang berakhir, Hong Kong kembali pada Inggris. Saat bersekolah, ia dan teman-temannya sering berkelahi dengan anak-anak Inggris. Hal itu dikarenakan kebenciannya terhadap orang Inggris yang memandang rendah orang Tionghoa. Seringnya berkelahi, membuat Bruce tertarik mempelajari beladiri.

Pada usia 13 tahun Bruce Lee menjadi murid Yip Man, guru aliran kungfu Wing Chun. Selama 5 tahun Bruce belajar kungfu dengan giat. Kondisi fisik yang awalnya kurang sehat semakin lama membaik dikarenakan ia selalu melatih tubuhnya. Ketika pertama kali mempelajari kungfu, ia memakai ketrampilannya untuk menghajar lawan-lawannya, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa untuk membela kehormatan diri tidak selalu dilakukan dengan bertarung secara fisik.

Ketika duduk di bangku SMA, nilai-nilai pelajaran sekolahnya tidak begitu bagus, namun dalam bidang olahraga dan kesenian ia mempunyai reputasi bagus. Pada saat diadakan kejuaraan tinju antar sekolah, ia berhasil mendapat juara setelah mengalahkan seorang murid Inggris.

Bakat lain yang dimiliki oleh Bruce Lee adalah menari. Bruce Lee sangat menyukai tari Cha Cha. Pada tahun 1958 ia berhasil menjuarai kompetisi tari Cha Cha Hongkong. Ia berlatih Cha Cha sama giatnya dengan ia berlatih bela diri.

Bruce Lee menyukai akting dan sangat antusias terhadap kegiatan ini. Ia bahkan telah berakting semenjak ia masih berusia 3 bulan di film Golden Gate Girl (1941) Ini dikarenakan sang ayah yang mengetahui bahwa Bruce kecil memang sangat senang untuk tampil di depan umum, sehingga ia sering yang mengajak Bruce masuk studio film.

Menginjak usia 18, Bruce Lee telah tampil di 20 buah film. Namun begitu, kedua orangtuanya sedikit kecewa karena nilai-nilai pelajaran di sekolahnya tidak begitu bagus. Setelah lulus SMA, ia disarankan untuk pergi ke Amerika, menyusul kakak-kakaknya yang telah terlebih dahulu belajar di sana.

Pada April 1959 Bruce pergi ke San Fransisco dengan naik kapal laut. Di San Fransisco, Bruce menjadi seorang guru tari, pekerjaan pertamanya di Amerika.

Bruce kemudian pindah di rumah temannya, Ruby Chow di Seattle. Di sini ia untuk sementara memfokuskan diri untuk belajar sambil melakukan berbagai macam pekerjaan seperti pelayan di restoran atau mengantar koran. Ia masuk Edison Technical School lalu masuk Universitas Washington jurusan filsafat. Dengan dasar kemampuan sebagai ahli bela diri ia menulis banyak esai tentang kung fu beserta filosofinya.

Seusai kuliah ia kembali mempraktikkan kungfu. Bersama teman-temannya ia membuka semacam tempat latihan untuk melatih gerakan kungfu. Beberapa murid baru tertarik dan ikut latihan Ia memberi perkumpulan kungfu itu dengan nama “Jun Fan Gung Fu Institute“. Tempat ini berada di lantai dasar sebuah gedung di Pecinan Seattle.

Pada awal tahun 1960-an, kung fu belum dikenal oleh masyarakat Amerika, namun Bruce Lee berusaha memperkenalkan kungfu dengan cara mendemonstrasikannya ke universitas. Ia membuka kelas yang lebih besar pada tahun 1963 di 4750 University Way.

Salah seorang murid baru yang masuk tahun 1963 bernama Linda Emery. Ia adalah mahasiswa baru Universitas Washington. Linda mengenal Bruce sebagai dosen tamu mata kuliah filsafat Tionghoa di Garfield High School. Ia masuk kelas kungfu karena dorongan pacar Bruce, Sue Ann Kay. Tidak berapa lama keduanya kemudian menjadi sepasang kekasih. Mereka akhirnya menikah pada tahun 1964. Bruce Lee dan Linda pindah ke Oakland dan membuka kelas belajar kungfu yang kedua di sana bersama James Lee, sementara kelas Seattle ia percayakan kepada asistennya, Taky Kimura.

Dikarenakan kekecewaannya dalam suatu pertarungan fisik pada tahun 1964 di Oakland, Bruce merasa perlu lebih jauh untuk mengeksplorasi kemampuan beladiri serta lebih meningkatkan kebugaran tubuhnya, ia menciptakan suatu seni beladiri yang baru bernama Jeet Kune Do.

Pada tahun 1965, anak dari pernikahan dengan Linda, Brandon Bruce Lee lahir.

Pertengahan dekade 60-an, Bruce mulai beralih ke kegiatan akting. Hal itu dikarenakan ia tidak tertarik lagi untuk membuka lebih banyak sekolah bela diri. Jika sekolah semakin banyak, ia dapat kekurangan waktu untuk menjaga kualitas dari ajarannya. Karena dalam kebiasaanya, ia melatih kungfu bersama muridnya satu demi satu dalam waktu yang tidak sedikit. Ia merasa bahwa kecintaannya akan seni bela diri tidak seharusnya menjadi niat untuk mendapatkan keuntungan.

***

Bruce Lee berkenalan dengan seorang produser film bernama William Dozier. Bruce Lee menandatangani kontrak dengan Dozier selama satu tahun. Pada tahun 1966, pembuatan serial The Green Hornet dimulai. Bruce Lee berperan sebagai Kato. Pertama kali dalam proses pembuatan, mereka kesulitan untuk merekam adegan Bruce yang terlalu cepat, jadi mereka memintanya untuk lebih lambat. The Green Hornet sukses dan mendapat sambutan dari penonton.

Bruce menaruh perhatian besar pada latihan fisik dan kebugaran tubuh. Selain latihan bersama murid-muridnya. Metode latihan fisik yang ia lakukan adalah melatih beban dengan perut dan lengan.

Metode lainnya adalah mengangkat barbel tanpa pemanasan serta menaruhnya di atas bahu. Setelah sering melatih metode itu, ia diketahui telah terluka pada jaringan syaraf. Ia dianjurkan untuk beristirahat total selama 6 bulan di atas ranjang. Ia tidak diperbolehkan berlatih kungfu. Hal ini membuatnya tertekan sehingga waktunya banyak dihabiskan untuk menulis. Setelah beberapa bulan Bruce kembali sehat dan perlahan-lahan mengumpulkan kembali tenaga untuk berlatih. Pada film-film selanjutnya ia tampak telah menggunakan kungfu secara penuh. Namun demi merawat punggungnya, ia harus beristirahat dan terapi.

***

Beberapa ide film yang diajukan oleh Bruce Lee kepada Warner Bros gagal untuk diwujudkan, antara lain Kung Fu dan The Silent Flute. Kung Fu gagal karena adanya konflik pemilihan peran, sementara The Silent Flute tidak mendapatkan lokasi pembuatan film yang cocok. Setelah beberapa film untuk Amerika gagal produksi, Bruce Lee memutuskan pergi ke Hongkong. Di sini ia menandatangani kontrak untuk tampil dalam dua buah film produser film Hong Kong bernama Raymond Chow dari perusahaan Golden Harvest.

Film The Big Boss dirilis tahun 1971 mendapatkan sukses besar di Hongkong.

Pada September 1971, Bruce pindah ke Hong Kong bersama keluarganya dan mulai pengambilan adegan untuk film kedua dengan Golden Harvest berjudul Fist of Fury atau disebut juga “Chinese Connection”. Film ini ternyata lebih sukses dari film pertama sehingga memechkan rekor box office.

Film ketiga ia kembali bekerja sama dengan Raymond Chow membentuk Concord Productions. Ia tidak saja menulis naskah film The Way of the Dragon atau Return of the Dragon, tetapi ia juga memproduksinya. Film inipun sukses dan memecahkan rekor box office.

Pada tahun 1972, Bruce mulai memproduksi film The Game of Death. Namun di tengah-tengah, Warner Bros mengunjungi Bruce Lee dan meminta ia agar bekerja sama dalam pembuatan film ini. Kemudian tercapailah kerja sama pertama antara produser film Hongkong dan Amerika. Pada saat itu produser Warner Bros adalah Ted Ashley.

Setelah sukses dengan The Game of Death, Bruce Lee berlanjut ke produksi film berikutnya Enter the Dragon. Proses pembuatan Enter the Dragon menemukan banyak kendala dan cukup membuat Bruce Lee frustrasi. Ia menginginkan ini menjadi sebuah film yang bagus dan dapat diterima oleh penonton Amerika. Akhirnya Enter the Dragon dapat dirilis di Hollywood’s Chinese theater pada bulan Agsutus 1973. Namun, Bruce tidak dapat menyaksikannya.

Pada 20 Juli 1973, Bruce mengalami sakit kepala. Ia dianjurkan untuk meminum obat penghilang rasa sakit bernama Equagesic. Setelah meminum satu pil, ia tertidur dan koma. Ia tidak bisa bangun kembali dan dinyatakan meninggal dunia. Hasil penelitian forensik menyatakan sebab kematian Bruce 9 hari kemudian. Diketahui bahwa Bruce hipersensitif terhadap obat tersebut yang mengakibatkan pembengkakan di dalam otak yang berujung pada koma dan kematiannya. (arh)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *