Selasa, 12 Desember 17 | 06:06 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

Oleh: Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB

 

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka di situlah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *