Minggu, 17 Desember 17 | 01:42 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Kunjungan Anies Baswedan ke Markas FPI, Mengejutkan?

Kunjungan Anies Baswedan ke Markas FPI, Mengejutkan?
* Anies Baswedan.

Jakarta – Kunjungan Anies Baswedan ke markas Front Pembela Islam (FPI) mendatangkan kekecewaan bagi sebagian pengguna media sosial, namun pengamat politik menjelaskan mengapa langkah ini penting bagi calon gubernur Jakarta nomor urut tiga ini.

Foto-foto yang memperlihatkan Anies Baswedan dan pimpinan FPI Rizieq Shihab dalam sebuah acara di markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat tersebar cepat di media sosial, Minggu (1/1) kemarin.

Beberapa orang menyatakan terkejut: mengapa sosok Anies yang dinilai memiliki paham Islam moderat bersedia berkunjung ke kelompok yang banyak dicitrakan radikal itu?

“Saya belum akan percaya lagi, apapun yang dikatakan oleh Anies Baswedan. Integritasnya runtuh dalam hati saya. Coret satu tokoh pujaan,” kata komedian Arie Kriting di Twitter.

“Kalimat Anies waktu pilpres dulu ‘orang baik membela orang baik’ ingin ketawa rasanya lihat dia merapat ke FPI,” kata yang lain.

Pandji Pragiwaksono, juru bicara Anies dalam akun Twitter menyebut langkah ini adalah bagian dari upaya merangkul semua pihak. “Mas Anies mah ketemu dengan SEMUA. Itulah konsekuensi jadi pemersatu,” cuitnya.

Tapi alasan ini tampak tak memuaskan sebagian orang. Beberapa bertanya: kalau dia menjalankan perannya sebagai ‘pemersatu’, maukah Anies merangkul Ahmadiyah dan Syiah juga?

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro menjelaskan kunjungan ini dengan lebih terang-terangan: ini adalah cara Anies – dan juga semua kandidat pemimpin – untuk mencari dukungan jelang pencoblosan.

“Tidak satupun calon yang tidak ingin dukungan,” katanya. “Keinginan mereka adalah memperbanyak dukungan masuk, dari kelompok Tionghoa, non-Muslim, mereka masuk ke semua (golongan).”

Tapi ini tidak berarti Anies melepas pandangannya sebagai moderat, kata Siti Zuhro. “Menurut saya, Anies tetap Anies, lulusan Amerika yang punya pandangan Islam modern, dia tidak akan menjadi FPI (hanya karena datang ke FPI).”

Merangkul akar rumput
Tapi ada alasan lain mengapa kunjungan ini lebih penting bagi Anies dibanding bagi kandidat lainnya. Anies dengan latar belakangnya sebagai akademisi lebih dikenal di kalangan elit. Pasangannya pebisnis Sandiaga Uno juga demikian, lebih akrab di telinga kaum menengah atas.

‘Gengaman’ pasangan nomor urut tiga ini di kalangan akar rumput tidak terlalu besar dibanding pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni misalnya yang dalam sejumlah hasil jajak pendapat kini jauh lebih diunggulkan dibanding Anies-Sandi, yang elektabilitasnya berada di urutan paling bawah.

“Ini yang membutuhkan talenta, baik dari calon juga tim sukses untuk membumikan bahwa Anies bukan orang yang di awang-awang. Dan, FPI bisa menjadi sarana efektif untuk membumikan itu. Sah-sah saja menurut saya,” kata Siti Zuhro seperti dilansir BBC Indonesia.

Agus-Sylviana, lanjutnya, diuntungkan oleh pemilih-pemilih tradisional yang cenderung memberikan suara berdasarkan afiliasi etnisitas, agama, dan partai politik.

Populasi suku Jawa dan Betawi (masing-masing 35% dan 28% di Jakarta) menjadi basis pemilih yang besar bagi Agus dan Sylviana. Belum lagi Sylviana memiliki banyak pengalaman dalam birokrasi pemerintahan dan akrab dengan seluk beluk akar rumput Jakarta.

Merebut simpati juga dilakukan oleh pasangan Ahok-Djarot yang tak hanya menggelar acara di Rumah Lembang tapi juga turun kembali menggapai masyarakat bawah.

Kembali ke Anies, kunjungannya ke markas FPI pada akhirnya juga bisa dilihat sebagai sebuah pengukuhan bahwa kelompok pimpinan Rizieq Shihab semakin diperhitungkan sebagai basis pemilih jelang Pilkada.

“Apalagi dengan aktivitas kemarin itu (unjuk rasa 4 November dan 2 Desember) menunjukkan mereka tidak bisa dientengkan. Siapapun yang perlu dukungan, akan perlu suara mereka. Kalau tidak coba dirangkul, kandidat bisa kehilangan peluang,” kata Siti Zuhro. (bbc.com)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *