Senin, 11 Desember 17 | 11:20 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Kuburan di Atas Bukit

Kuburan di Atas Bukit
Photo Credit To Pemakaman di atas bukit di daerah Seberang Palinggam, Kota Padang, Sumatera Utara. (Foto: Rinaldi Munir)

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Kebiasaan umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya. Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hiang. Itu termasuk makam ayah saya.

Karana kompleks pemakaman ini berada di atas bukit, maka dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Peristiwa tsunami di Aceh telah memberi kesadaran bagi Pemerintah kota untuk membangun jalur evakuasi. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana. (Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *