Senin, 11 Desember 17 | 07:25 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Khofifah Indar Parawansa, Kesederhanaan Sang Pengabdi Umat

Khofifah Indar Parawansa, Kesederhanaan Sang Pengabdi Umat
Photo Credit To Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (Foto-foto: Fikar Azmy & Dok. Humas Kemensos)

Baru-baru ini, Women’s Obsession menikmati kesempatan eksklusif sehari bersama Menteri Sosial Republik Indonesia Kabinet Kerja periode 2014-2019, Khofifah Indar Parawansa. Kami mengikuti kesehariannya di kampung halaman tercinta, Surabaya. Ibu empat anak ini aktif menunaikan amanah-amanah masyarakat Indonesia yang dipercayakan kepadanya.

Derap langkah perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini terbilang gesit dan bertenaga. Seperti itu pula proses berpikir dan bertindak sang Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) periode 2016-2021. Dalam berbicara, dia menjabarkan fakta-fakta yang ditemui ketika bertugas di lapangan. Keterbukaan tersebut dimaksudkan, agar masyarakat kian tergerak bahu-membahu memajukan ibu pertiwi bersama pemerintah. Dalam bertindak, tergambar dedikasi sepenuh hati untuk melayani masyarakat. Gaya penanganannya lebih menuju silent worker. Tak senang mengumbar pencitraan, lebih memfokuskan kepada pengecekan dan penanganan langsung di setiap daerah. Kali ini, kami menguntai citra humanis Khofifah dari berbagai sisi. Kebersamaan kami dalam waktu sehari berpadu dengan perjalanan kariernya kian mengukuhkan pribadi sang menteri senang berpenampilan sederhana. Tegas berbicara, enggan diistimewakan, tak nyaman berlama-lama di depan kamera, dan tidak kenal lelah dalam merampungkan segala tugas-tugasnya.

Sungkan Diistimewakan

Sepanjang perjalanan, kami menyimak gerak-gerik sungkan Khofifah, ketika diperlakukan istimewa. Beruntung, kami sudah mendampingi perjalanan Khofifah sejak di Jakarta. Ternyata, dia selalu memilih penerbangan kelas ekonomi dan duduk di belakang tim Women’s Obsession. Ketika mendarat, dia mengantri untuk turun di pesawat, tak meminta layanan khusus agar didahulukan. Sempat pula melayani permintaan selfie salah satu penumpang pesawat.

Tujuan pertama kami adalah kediaman pribadi di kawasan Jemursari. Di sana, kami bertemu putra bungsunya, Ali Mannagalli. Usai melepas rindu, Khofifah menyantap masakan rumahan kesukaannya. Di meja makan tersaji pecel, empal, peyek udang, cumi hitam, ikan gulai, dan kerupuk. Dengan ramah, dia mengajak semua untuk segera menikmati sajian selagi hangat. Usai bersantap, dia menyeruput secangkir kopi hitam kesukaannya dan berbincang-bincang dengan si bungsu di dalam kamar.

Dalam setiap kunjungan di berbagai tempat, sudah lazim tuan rumah menjamu tamu. Namun, hal itulah yang dihindari Khofifah. Dia berusaha melebur tanpa membangun jarak. Dalam hal makanan, dia lebih memilih bersantap bersama-sama, dibandingkan menyantap yang khusus dihidangkan untuknya. Misalnya, saat kami menghadiri acara halal bihalal di Yayasan Khadijah Surabaya, almamaternya saat SMP & SMA, dia menanggapi penawaran layanan istimewa dengan berkata, “Opo, tidak boleh manja. Saya antri dengan anak-anak saja di sini. Tenang saja.” Dia hanya menghabiskan semangkuk soto daging, karena harus menunaikan salat Zuhur dan bersiap untuk agenda keduanya. Sementara itu, jamuan spesial dinikmati oleh tamu lain dan timnya, termasuk para wartawan lokal.

Selama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Khofifah mendapat pengawalan sederhana. Bantuan pengawalan tersebut diperlukan, agar dapat memenuhi empat agenda dalam waktu yang berdekatan. Di dalam mobil berplat RI 30, tersimpan sebotol minuman berenergi dan air putih guna mendukung daya tahan tubuh menteri yang gemar mendaki gunung tersebut. Selain itu, nampak setumpuk berkas di sampingnya.

 100% penerima PKH adalah wanita

Kita telah mengetahui catatan karier dan prestasi gemilang alumni pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) ini selama lebih dari dua dekade. Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dia terpilih mengomandoi Kementerian Sosial (Kemensos). Memasuki tahun ketiga masa jabatannya, perempuan yang sempat bercita-cita sebagai pembalap motor ini telah mencatatkan perkembangan positif. Berbagai program unggulan dirintisnya dari pengentasan kemiskinan, pemulangan TKI bermasalah, validasi data warga yang belum terdata, keterbelakangan, dan konflik sosial, hingga merehabilitasi pengguna narkotika.

Di berbagai kesempatan, Khofifah menuturkan salah satu program yang efektif menurunkan jumlah kemiskinan di Indonesia adalah Program Keluarga Harapan (PKH) atau secara internasional disebut Conditional Cash Transfer (CCT) yang telah diterapkan sejak 2012. PKH adalah program pemberian uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Nama lainnya adalah Bantuan Tunai Bersyarat. Persyaratan dapat berupa kehadiran di fasilitas pendidikan bagi keluarga dengan anak usia sekolah ataupun fasilitas kesehatan bagi keluarga yang memiliki anak balita atau bagi ibu hamil.

Sebenarnya, lanjut Khofifah, masyarakat yang cerdas dan sehat adalah hasil akhir sebagai tujuan PKH. Itu semua dilakukan demi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, Khofifah menyasar penerima PKH semuanya perempuan sebagai sosokpondasi setiap keluarga dan tiang negara.

Sejahterakan ibu-ibu melalui PKH

“Pengguna PKH harus mengikuti sejumlah kewajiban begitu mendapat bantuan itu,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kementerian Sosial Harry Hikmat. PKH dicairkan dalam empat tahap per tahun. Dengan cara tersebut, lanjut Harry, keluarga penerima memiliki kesempatan untuk mengatur pemanfaatannya. “Terutama keperluan pendidikan di luar biaya yang sudah digratiskan sekolah atau bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang hanya satu kali cair,” paparnya. Dia memberikan contoh, dana PKH bisa dipakai untuk membeli buku tulis, seragam, sepatu, dan peralatan lain yang tak digratiskan sekolah. Pola penggunaan sama juga dapat diterapkan untuk bidang kesehatan.

PKH kemudian berkembang membantu orang-orang lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Pertimbangannya, keluarga dengan lansia dan penyandang disabilitas menanggung pengeluaran tambahan. “Tambahan pengeluaran itu bisa mengurangi kesejahteraannya, kalau tidak dibantu oleh pemerintah,” jelas Harry. Dia pun menegaskan, peran PKH maupun program-program lain pemerintah saling mendukung dan menguatkan.

Jumlah dana bantuan pun berjenjang yang diberikan secara bertahap dalam satu tahun. Tujuan PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mengubah perilaku yang kurang mendukung peningkatan kesejahteraan dari kelompok paling miskin. Keberhasilan program tersebut mempercepat pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs).

Berdasarkan hasil evaluasi Bank Dunia pada 2012 dan 2015, PKH berdampak meningkatkan kunjungan ibu hamil ke fasilitas layanan dasar kesehatan sebesar tujuh persen. Meningkat pula imunisasi lengkap hingga delapan persen dan pemeriksaan kesehatan balita bertambah 22 persen. Sementara, pengeluaran keluarga untuk makanan berprotein tinggi mencapai 10 persen. Khofifah berharap anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH mampu mengangkat derajat keluarga. Dia mengungkapkan, komplementaritas Bansos PKH menyasar dua persoalan besar kemiskinan, yaitu kesehatan dan pendidikan. Harapannya, dengan gelontoran dana PKH tingkat kesehatan dan pendidikan masyarakat semakin terus meningkat. “Sasaran utamanya anak-anak KPM PKH, sehingga rantai kemiskinan antar generasi bisa diputuskan karena mereka mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga mampu menunjang kehidupan keluarga,” imbuh Khofifah.

Dia menambahkan dengan pendidikan yang cukup seseorang bisa mengakses pekerjaan yang jauh lebih baik dan berdampak besar pada meningkatkan pendapatan keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal tahun lalu, anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang bersekolah selama 12,72 tahun, meningkat 0,17 tahun dibandingkan pada 2015. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,95 tahun, meningkat 0,11 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. “Ini salah satu alasan PKH tahap II dicairkan jelang tahun ajaran baru. Saya berharap kebutuhan anak sekolah bisa terpenuhi, sehingga mereka pun bisa lebih bersemangat untuk sekolah,” tambahnya. Bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga PKH diberikan hingga jenjang SMA/SMK/Sederajat.

Ditekankan pula kepada anak-anak KPM PKH untuk tidak takut menggapai cita-cita. Dia meminta agar mereka tak patah semangat meraih cita-cita dalam kondisi apapun.”Kemiskinan bukan alasan, justru harus menjadi pemacu semangat untuk bisa keluar dari situasi tersebut,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, jika ingin anak-anak berhasil, maka keluarga harus memberikan tumpahan kasih sayang dan perlindungan. Sapa anak-anak dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan didik anak dengan kekerasan, hindarkan mereka dari berbagai kekerasan dan eksploitasi. “Tindak kekerasan bukan cuma secara fisik, tapi juga psikis dan seksual. Apapun alasannya, mari lindungi anak-anak kita, karena ke depan merekalah yang akan mewarisi bangsa ini,” tandasnya.

Setiap kali berkunjung ke daerah, Khofifah sering bertemu dengan anak KPM PKH berprestasi, baik di bidang olahraga, kesenian, sains, akademik, dan lain sebagainya. Tidak hanya di level nasional, namun juga hingga internasional. Baru-baru ini, dia bertemu salah satu anak penerima PKH di Cirebon, Dewinta

Putri Fazriani yang berhasil mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebelumnya, dia juga bertemu Ahmad Zuhri

mahasiswa asal Demak yang berprestasi di ajang kontes robotik internasional di Amerika Serikat. ”Saya yakin mereka semua bisa berprestasi. Semua kembali pada bagaimana kita mengarahkan dan mendorong mereka agar dapat lebih mengembangkan minatnya,” tukasnya.

Untaian Hati Anak Penerima PKH

Lahir dari keluarga tidak mampu, terbukti bukan alasan untuk jauh dari prestasi dan harapan. Setidaknya berkaca dari kisah anak dari keluarga penerima bantuan PKH di Gresik ini. Berikut petikan percakapan telekonferensi Khofifah dengan Galuh saat di Cina pada 2016 silam. “Halo Galuh, apa kabar?” Sedang musim apa di sana?” sapa Khofifah mengawali perbincangan.

Galuh adalah salah satu anak dari keluarga penerima PKH. Khofifah pun tak menutupi rasa bangganya pada pencapaian Galuh. “Ibu Galuh adalah salah satu peserta PKH. Karena anaknya dibimbing dengan baik, dia bisa berhasil mendapat beasiswa ke Cina,” untai Khofifah.

Ada pula kisah Syalom. “Saya ketika ujian targetnya harus jadi juara satu, karena ingat orangtua juga, dan kadang kecewa kalau tidak dapat juara satu,” jelasnya. Dia juga pernah mengalami nilai merosot, akibat ikut berbagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Kini, dia tinggal menunggu hasil kelulusan untuk melanjutkan pendidikannya. “Saya mau masuk SMK Keperawatan, supaya nanti bisa jadi perawat,” kata kakak dari dua adik ini. Di dalam keluarga dia jarang terlihat belajar, namun ternyata dia aktif di sekolah. “Buku tabungan

saya berikan kepada ibu, takut saya habiskan,” ujarnya. Syalom tak hanya berprestasi, tapi juga aktif di berbagai kegiatan sekolah, seperti OSIS dan ekskul lainnya. Mendapatkan bantuan PKH merupakan sebuah harapan untuknya meraih cita-cita, lantaran kedua orangtuanya berpenghasilan tidak tetap. Sang ibu sebagai tenaga kontrak sementara ayahnya bekerja serabutan. Mereka juga kini tinggal menjaga kantor Lurah Liningaan.

Mengabdi Sepenuh Hati

Mulai tahun 2017, pemerintah secara bertahap mengubah penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat prasejahtera. Dari yang semula berupa uang tunai dan beras menjadi bantuan pangan non tunai. Pemerintah menggandeng Himpunan Bank Negara (Himbara) dalam penyaluran bansos non tunai tersebut, yaitu BNI 46, BTN, BRI, dan Bank Mandiri. Pencairan dilakukan menggunakan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang dimiliki oleh setiap rumah tangga penerima bantuan. “Tahun ini, dari total enam juta penerima bantuan PKH, 50 persennya akan menerima secara non tunai. Bantuan disalurkan di 98 kota dan 200 kabupaten,” jelas Khofifah.

Dia menambahkan bansos secara non tunai merupakan program baru, agar penyaluran lebih tepat sasaran. Untuk data jumlah penduduk miskin penerima bantuan pangan non tunai, Kementerian Sosial menggunakan basis data terpadu yang dikumpulkan sejak 2011. Pendataan penduduk miskin berdasarkan 40 variabel. Basis data penduduk miskin diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2013. Khofifah menambahkan, berdasarkan basis data terpadu sekitar 40 persen penduduk berstatus sosial terendah atau setara 26 juta warga. Namun, pemerintah baru mampu memberikan bansos melalui program PKH kepada 6 juta keluarga dan Rastra 15,7 juta keluarga.

“Beras adalah makanan pokok orang Indonesia, miris kalau sampai masyarakat kita mengonsumsi beras yang tidak layak. Pokoknya, saya minta persoalan beras jelek tidak lagi terus berulang,” imbuh Khofifah. Oleh karena itu, dia meminta pemerintah daerah dan Bulog untuk secara aktif mengecek langsung stok beras di gudang Bulog sebelum didistribusikan. “Jangan karena mengejar realisasi penyaluran, akhirnya asal dibagikan saja, tanpa mengetahui kualitas. Jika ditemukan beras berkualitas buruk, pemerintah daerah harus segera mengembalikan pada Bulog agar diganti dengan beras layak konsumsi sesuai kualifikasi berdasarkan harga pembelian beras,” tegas Khofifah.

Wanita ‘Sejuta’ Aksi

Demi mencapai berbagai perubahan positif tersebut, Khofifah mengungkapkan bergantung pada kesolidan tim di sampingnya ataupun yang tersebar di penjuru Nusantara. Sebagai pemimpin, dia selalu merangkul tim untuk terus bekerja secara militan, penuh perjuangan, dan dari hati. Dia menilai pekerjaan adalah bagian dari ibadah, bukan sesuatu yang dihitung-hitung berdasarkan gaji, senioritas, dan jam kerja. “Manusiawi sekali, ketika unit yang selalu bersiaga merasa begitu sibuk tanpa kenal waktu, sementara unit lain tidak terlalu sibuk. Saya sampaikan kepada mereka, malaikat itu tidak pernah salah mencatat amalan baik dan tidak baik. Kita jangan pernah membandingkan gaji dengan tugas. Hindari perasaan saya kok lebih sibuk dan lelah, sementara yang lain santai saja di kantor. Di situlah, sisi spiritualitas harus disambungkan ketika bekerja. Tidak semua mendapatkan privileged tersebut,” tandasnya. Kepiawaian Khofifah merampungkan beragam tugas dan aktivitas secara bersamaan telah dijalankan sejak remaja. Dia telah membekali diri dengan segala pengalaman organisasi, politik, seminar dan workshop di dalam maupun luar negeri.

Sebagai Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah Surabaya, dia menekankan muatan keagamaan di setiap kegiatan program studi. Agar generasi penerus memiliki pribadi yang utuh secara spiritual. Selaku pengemban tugas Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), dia juga menyerukan memerangi narkoba dari rumah sebagai tempat pertama tumbuh kembang generasi muda.

Keragaman aktivitas dan tugas tidak membuatnya anti media sosial. Dia salah satu menteri yang ‘melek’ di media sosial, bahkan membuat video blogging (vlog) di beberapa kunjungannya. Dia juga menyempatkan waktu membalas komentar di Instagram. Kecanggihan dunia teknologi dan digital dinilainya sebagai jembatan penghubung kepada masyarakat, terutama generasi penerus. Selain itu, bermanfaat pula untuk berkomunikasi dengan anak-anak tercinta.

Dalam bekerja, dia selalu teringat pesan tokoh inspiratornya, mendiang Presiden Abdurahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, yaitu orang hidup itu harus berani berjuang. Be yourself and do the best dalam melakukan apa pun. “Saya pegang teguh kalimat tersebut dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk didera tekanan. Pribadi saya ibarat proses pembuatan martabak. Semakin ‘dibanting-banting’, tetap kuat dan terbentuk rasanya,” tambah perempuan yang mencintai batik dan Wastra Nusantara lainnya ini.  (Silvy Riana Putri)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *