Senin, 11 Desember 17 | 11:19 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke

Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke
Photo Credit To Ilustrasi berbakti pada orang tua. (Sumber foto: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/)

Dulu saya pernah menulis tentang kesabaran anak yang diuji dengan merawat orang tuanya yang sakit-sakitan di akhir hayatnya (Baca: “Ujian” dari Orangtua pada Saat Akhir Hayat). Kali ini saya menemukan kisah yang serupa lagi, yang dialami oleh tukang ojek langganan anak saya.

Saya punya ojek langganan yang khusus untuk mengantar jemput anak saya ke sekolah. Saya memanggilnya Kang Agus. Sudah hampir empat tahun saya berlangganan ojek dengannya. Dia mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai anak.  Selain menjadi tukang ojek, dia juga berjualan kaos kaki di dekat sebuah sekolah. Penghasilannya tidak seberapa, baik menjadi tukang ojek maupun berjualan kaos kaki.

Sekarang menjadi tukang ojek sudah mulai dikuranginya, pasalnya ibunya terbaring sakit di rumah setelah mendapat serangan stroke tiga tahun lalu. Ibunya sejak lama tinggal seorang diri setelah berpisah dengan suaminya. Serangan stroke membuat ibunya lumpuh. Tidak bisa berjalan, tidak bisa duduk sendiri, dan bicara pun sudah kurang jelas. Sejak ibunya terkena stroke, Kang Agus pun pindah ke rumah ibunya demi bisa merawat ibunya yang sudah tidak bisa apa-apa. Ibunda Kang Agus benar-benar bergantung pada orang lain.

Sebenarnya Kang Agus punya dua orang saudara perempuan, sudah menikah, dan hidup terpisah, tetapi mereka tidak mau merawat ibunya. Praktis hanya Kang Agus sendiri, dibantu istrinya, yang merawat ibunya setiap hari.

Karena sudah tidak bisa apa-apa (lumpuh sebelah), maka ibunya hanya berada di atas kasur dari pagi sampai malam hingga pagi lagi. Semua aktivitasnya hanya di atas kasur, baik makan, buang air besar, pipis, dan lain-lain. Satu-satunya aktivitas untuk mengusir rasa jenuh adalah membaca yasinan setiap hari.

Istri Kang Agus bekerja di rumah saya sebagai asisten rumah tangga. Rutinitas yang dilakukan mereka berdua setiap hari kepada ibunda dimulai sejak subuh. Setelah sholat subuh, ibunda dimandikan (digendong ke kamar mandi). Setelah dipakaikan pampers dan pakaian, selanjutnya ibunda digendong lagi ke atas kasur. Sarapan pagi pun disiapkan untuk sang ibu sebelum mereka berdua berangkat kerja. Jam setengah tujuh pagi Kang Agus sudah datang ke rumah saya untuk mengantar anak sulung ke sekolah. Istrinya baru datang ke rumah saya pukul delapan setelah selesai membereskan rumah mertua dan memasak untuk makan siang.

Ibunda Kang Agus ditinggalkan seorang diri di rumah dalam posisi duduk di atas kasur. Untuk merebahkan tubuhnya ke kasur tidak bisa dilakukan sendiri, harus dibantu. Kadang-kadang karena mengantuk setelah membaca yasinan, sang ibu rebah tertidur begitu saja di atas kasur, namun untuk bangkit duduk lagi tidak bisa dilakukannya karena syaraf di punggung sudah lumpuh. Harus menunggu anak atau menantunya pulang agar ia bisa duduk lagi.

Setelah mengantar anak saya ke sekolah, Kang Agus balik ke rumahnya sebentar untuk melihat kondisi ibunya, lalu keluar rumah lagi untuk berjualan kaos kaki. Jam satu siang istrinya pulang ke rumah sebentar untuk memberi makan ibunya, membersihkan pipis dan BAB di dalam pampers (sang ibu dipakaikan pampers karena untuk pipis dan buang air besar hanya bisa di atas kasur), lalu kembali lagi ke rumah saya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Kang Agus menjemput anak saya dari sekolah pukul empat sore, lalu kembali ke rumah ibunya.

Begitulah rutinitas yang dilakukan Kang Agus setiap hari, di antara memikirkan nafkah dan merawat ibunya. Dapatkah kau mengerti ujian kesabaran yang dihadapinya? Jarang ada orang yang bisa tahan mengurus orang tuanya yang sakit-sakitan dan tidak berdaya lagi di atas kasur.  Siapa anak dan menantu yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membersihkan kotoran ibunya, melap badannya, menceboki pantat dan membersihkan pipisnya? Semua itu dilakukan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, dan dilakukan berdua.  Sungguh sebuah kesabaran dan pengorbanan yang tiada batasnya.

Minggu lalu saya menjenguk ke rumah Kang Agus karena sudah beberapa hari Kang Agus tidak bisa mengantar jemput anak saya ke sekolah. Rupanya Kang Agus sakit diabetes (turunan dari ibunya) sehingga hanya bisa di rumah saja. Dalam keadaan sakit pun Kang Agus tetap merawat ibunya dengan setia.  Saya yang datang ke rumah itu melihat sendiri kondisi ibunya yang di atas kasur. Memang menyedihkan, ibu yang sudah tua, kesepian setiap hari, tidak punya teman bicara ketika anak dan menantunya pergi bekerja, dan hanya bisa duduk berjam-jam di atas kasur dari pagi sampai malam.

Saya hanya bisa membesarkan hati Kang Agus dan menyatakan bahwa yang dilakukannya kepada ibunya adalah amal sholeh sebagai bakti anak kepada orangtuanya. Insya Allah amalan sholeh itu akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Mungkin sekali-sekali pernah terbersit perasaaan bosan dan jengkel menghadapi ibunya, itu manusiawi, namun Kang Agus tetaplah melakoninya dengan sabar.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Kang Agus tentang kesabaran yang luar biasa. (*) (Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *