Selasa, 12 Desember 17 | 06:09 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

H.M. Rasjidi Menteri Agama Pertama RI

H.M. Rasjidi Menteri Agama Pertama RI

Oleh M. Fuad Nasar, Pegawai Kementerian Agama

 

Dalam momentum memperingati ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, ada baiknya kita mengenang sosok dan kiprah Menteri Agama Pertama Republik Indonesia yakni Mohammad Rasjidi, nama lengkapnya Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Tokoh Muhammadiyah ini dilahirkan di Kotagede Yogyakarta pada 20 Mei 1915 (4 Rajab 1333 H) dan meninggal dunia di Jakarta pada 30 Januari 2001 dalam usia 86 tahun.

Rasjidi semasa kecil menempuh pendidikan Sekolah Ongko Loro, setingkat Sekolah Dasar dengan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas. Ketika Muhammadiyah mendirikan Sekolah Rendah di Kotagede, Rasjidi yang nama kecilnya Saridi tertarik sehingga pindah ke sekolah Muhammadiyah. Ia juga sempat masuk Sekolah Guru atau KweekschoolMuhammadiyah, namun hanya sampai Kelas 3. Selanjutnya masuk Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyah di Lawang Jawa Timur yang diasuh oleh Syaikh Ahmad Soorkati, salah seorang tokoh pembaharuan Islam di awal abad XX.

Setamat dari Perguruan Al-Irsyad, Rasjidi mendapat kesempatan  melanjutkan pendidikan ke Cairo Mesir. Ia masuk Darul ‘Ulum dan mengikuti ujian persamaan Sekolah Menengah Umum. Kedua kegiatan itu diselesaikannya pada 1934. Empat tahun kemudian (1938), Rasjidi menyelesaikan studinya di Fakultas Sastra Jurusan Filsafat di Universitas Cairo. Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam buku 70 Tahun Rasjidi mengungkapkan bahwa Rasjidi dalam usia mudanya telah melakukan pengembaraan intelektual yang luas. Betul sekali. Rasjidi adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor (Ph.D) dalam ilmu keislaman dari Universitas Sarbonne pada 1956 dengan disertasi mengenai Serat Tjentini.  Pada 1958 – 1963 ia menjadi Associate Professordi McGill University, Montreal, Canada.

Sebagaimana diungkapkan dalam biografinya pengembaraan Rasjidi di luar negeri diakhiri dengan menjabat sebagai Wakil Direktur Islamic Centre di Washington DC, Amerika Serikat. Rasjidi kembali ke Tanah Air dalam hari-hari terakhir kekuasaan Presiden Soekarno. Ia sempat menumpang tinggal di Jalan Menteng Raya 58 Jakarta, markas Sekretariat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) selama 9 bulan karena rumahnya di Jalan Diponegoro 42 Jakarta ditempati orang lain.

Ketika Rasjidi mencapai usia 70 tahun, Panitia Penulisan Buku 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi yang diketuai Prof. Dr. H.A. Mukti Ali (mantan Menteri Agama) menerbitkan buku 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi (Penyunting: Endang Basri Ananda, 1985). Saya mengutip kembali Sambutan Menteri Agama H. Munawir Sjadzali pada buku itu. Munawir menulis, “Terdapat tiga hal yang mendorong saya untuk mendukung prakarsa sementara kawan untuk menandai genap 70 tahun usia Profesor Dr. H.M. Rasjidi. Pertama, beliau adalah Menteri Agama RI yang pertama; kedua, beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan; dan ketiga, beliau adalah seorang ilmuwan Islam dan cendekiawan Muslim yang tangguh dan berwatak. Buku yang diterbitkan oleh Harian Umum Pelita itu juga memuat tulisan kenangan tentang Rasjidi dari mantan Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri.

Rasjidi diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Sjahrir II tanggal 3 Januari 1946. Pada Jum’at malam 4 Januari 1946 Menteri Agama H.M. Rasjidi menyampaikan pidato perdana melalui RRI Yogyakarta, menegaskan berdirinya Kementerian Agama adalah untuk memelihara dan menjamin kepentingan agama serta pemeluk-pemeluknya.

Pengangkatan Rasjidi sebagai Menteri Agama Pertama di masa revolusi kemerdekaan cukup unik. Semula ia sendiri tidak tahu tentang penunjukan itu. Satu hari Rasjidi menyuruh pembantunya membeli surat kabar Merdeka. Dilihatnya ada pengumuman pembentukan kabinet. Ia melihat ada nama H. Rasjidi. Ia  mengira itu nama orang lain yang kebetulan sama dengan namanya, apalagi ia sendiri merasa tidak pernah dihubungi oleh siapa pun untuk duduk di kabinet. Rupanya orang-orang di kampungnya membaca juga pengumuman itu. Di Kotagede Yogyakarta, lebih dikenal dengan nama Haji Rasjidi. Mereka mengirim kawat menanyakan apakah Haji Rasjidi yang dibaca di koran dan diangkat sebagai menteri itu, apakah dirinya. Sesudah beberapa lama kemudian datang utusan kabinet ke rumahnya di Jalan Kebon Kacang Jakarta untuk menjemputnya menghadiri sidang kabinet di Jalan Jawa, rumah kediaman Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Dalam wawancara dengan majalah Panji Masyarakat No 371 – 23 Zulqaidah 1402/11 September 1982 Rasjidi mengemukakan pandangannya bahwa Departemen Agama (kini Kementerian Agama) di Indonesia jauh lebih luas ruang lingkup tugasnya dibanding Kementerian Wakaf seperti yang ada di negara-negara Arab. Menanggapi wacana yang menghendaki digantinya nama Departemen Agama menjadi “Departemen Keagamaan”, Rasjidi memandang pikiran-pikiran semacam itu sebagai pikiran yang kacau dan hanya mengada-ada, namun kita perlu waspada.

Dalam perjuangan kemerdekaan Rasjidi ikut berperan mengupayakan dukungan dari negara-negara Islam terhadap kemerdekaan Indonesia. Perjuangan diplomasi RI di Timur Tengah yang dilakukan oleh Rasjidi dan kawan-kawan menghasilkan pengakuan kedaulatan dari negara-negara anggota Liga Arab terhadap Republik Indonesia sebelum negara-negara lain memberi pengakuan.

Di samping itu, patut dikenang peran Rasjidi dalam peta pemikiran Islam dan kontribusinya membangun tradisi ilmiah serta etos intelektualisme Islam di Indonesia. Menurut Munawir Sjadzali, salah satu sisi mengesankan dari sosok Rasjidi sebagai ilmuwan Islam yang berbobot, adalah keyakinannya yang mutlak terhadap kebenaran Islam dan penguasaannya tentang ilmu ke-Islaman yang utuh dan lengkap serta didukung oleh pengenalan yang cukup dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain khususnya penguasaannya terhadap filsafat.

Pada 1968 Rasjidi dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Islam dan Lembaga-lembaga Islam Universitas Indonesia (UI). Pidato pengukuhannya berjudul Islam dan Indonesia Di Zaman Modern. Dalam pidatonya Rasjidi mendorong umat Islam Indonesia agar melakukan penyelidikan dan penelitian terhadap ajaran-ajaran Islam secara ilmiah, seperti yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat. Ia menolak metode orientalis dalam memahami Islam karena akan hilanglah kekuatan jiwa yang didapat dari Al Quran.

Dalam sejarah pengembangan perguruan tinggi Islam, khususnya IAIN, tak dapat dilupakan peranan dan jasa Rasjidi yang merintis dan membimbing studi purnasarjana bagi dosen-dosen IAIN di Jakarta ketika itu sebagai cikal bakal berdirinya Sekolah Pascasarjana UIN.

Dalam wawancara dengan majalah Serial Media Da’wah tahun 1989, Rasjidi menceritakan liku-liku perjalanan karirnya, “Saya ini masuk pemerintahan dari tiga jurusan. Di Departemen Agama saya adalah Menteri Agama pertama, kemudian menjadi Sekretaris Jenderal di bawah Menteri Agama Faturrachman. Di Departemen Luar Negeri, saya pernah menjadi Sekretaris Delegasi Diplomatik Indonesia ke negara-negara Arab, kemudian menjadi Ketua Delegasi setelah Ketua Delegasi Haji Agus Salim berangkat ke Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk memperkuat delegasi Indonesia di sana. Pada 1950-1952 saya menjadi Duta – waktu itu belum ada istilah Duta Besar— di Mesir merangkap Saudi Arabia. Pada 1952-1953 saya menjadi Duta di Iran merangkap Afghanistan. Pada 1953-1955, saya menjadi Kepala Direktorat Penerangan Departemen Luar Negeri, dan pada 1956-1958 saya Duta Besar di Pakistan.” paparnya.

Sebagai tokoh dan pejuang umat Rasjidi tahun 1967 ikut mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama Mohammad Natsir dan sejumlah tokoh Masyumi lainnya. Ia lalu ditunjuk menjadi Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Di samping itu Rasjidi adalah Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Rasjidi juga mendapat amanah sebagai Imam Besar Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng Jakarta. Sekitar tahun 1980-an ia diminta oleh Kerajaan Saudi Arabia menjadi Kepala Kantor Perwakilan Rabithah Alam Al Islami di Indonesia dari tahun 1981  sampai 1988.

Menurut mantan Rektor Unisba dan Ketua MUI K.H.E.Z. Muttaqien (1985) Rasjidi adalah seorang ilmuwan yang pendiam, tetapi kalau berbicara selalu berisi mutiara. Sedangkan M. Dawam Rahardjo dan Cak Nur menjuluki Rasjidi sebagai “The Guardian(penjaga) dunia pemikiran Islam Indonesia yang selalu cemas bila melihat gejala ‘penyimpangan’ atau ‘penyelewengan’ dalam kegiatan intelektual.” Seperti diketahui Rasjidi menulis buku yang mengoreksi pemikiran Cak Nur tentang Sekularisme tahun 1972.

Dalam kapasitas sebagai ulama dan pejuang Islam, Rasjidi merasa terpanggil untuk menjaga akidah umat dari bahaya Sekularisme dan Kristenisasi yang menjadi isu hangat di Tanah Air pasca G30S/PKI dan dekade awal Orde Baru. Ketika pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang isinya kontroversial ke DPR tahun 1973, Rasjidi menentang keras RUU tersebut. Ia menulis di media massa, “Sekitar RUU Perkawinan Bukankah Aku Telah Memperingatkan?” RUU tersebut dikritisinya karena bertentangan dengan hukum Islam yang dianut oleh 90 persen bangsa Indonesia. Dalam draft awal RUU Perkawinan, perbedaan agama disamakan dengan perbedaan suku dan daerah asal sehingga tidak menghalangi sahnya perkawinan. Hal itu sangat bertentangan dengan agama Islam. Narasi seputar  polemik RUU Perkawinan dihimpun oleh Rasjidi menjadi buku berjudul Kasus Rancangan Undang-undang Perkawinan dalam Hubungan Islam dan Kristen yang diterbitkan pada 1974 dan sempat dilarang beredar.

Penolakan kalangan tokoh dan aktivis Islam terhadap RUU Perkawinan yang bercorak sekuler menimbulkan aksi demonstrasi yang membuat panas situasi politik nasional. Pemerintah akhirnya mengubah sikap sehingga melakukan perbaikan mendasar terhadap  konsep RUU. DPR akhirnya mensahkan Undang-Undang Perkawinan yang substansinya dapat diterima oleh seluruh umat Islam (Undang-Undang No 1 Tahun 1974).

Dalam Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1399 H/1979 M di halaman Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, Rasjidi menegaskan bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak menjamin negara kita tidak akan menjurus menjadi sekularisasi. Di dalam suatu negara, baik struktur negara tersebut atau orangnya masing-masing mempunyai peranan. Mengenai atheisme, Rasjidi menggaris-bawahi: ada dua atheisme, yaitu: atheisme philosophis yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dan atas dasar itu ia bertindak dan berbuat seakan-akan Tuhan tidak ada. Akan tetapi di samping atheisme philosophis tersebut, ada lagi atheisme praktis, yakni orang mengatakan bahwa Tuhan itu ada, bahwa agama itu perlu, akan tetapi meskipun demikian, pekerjaan dan tindakannya sama dengan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Rasjidi mengajak umat Islam menghadapi tantangan terhadap agama, terhadap eksistensi kita dengan jiwa besar, hati yang tabah dan iman yang kuat.

Dalam buku Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam? (1968), Rasjidi memperingatkan kepada seluruh umat beragama, khususnya pemeluk agama Kristen, jika mau membantu umat Islam yang sedang menderita kelaparan, kebodohan dan sakit, silahkan untuk membantu, tetapi biarkanlah mereka itu dalam keyakinan Islamnya. Wartawan senior H. Rosihan Anwar menyebut Rasjidi “pengungkap gamblang hubungan antar-agama di Indonesia.”

Menanggapi isu masuknya bahaya paham Syi’ah ke Indonesia, Rasjidi menulis buku Apa Itu Syi’ah (1984)Tujuan ditulisnya buku itu adalah untuk memberi pengertian kepada masyarakat tentang Syi’ah dan perbedaannya dengan Ahlusunnah. Sementara itu dalam buku kecil Hendak Dibawa Ke Mana Umat Ini? (1988) Rasjidi berpesan. “Ukhuwah Islamiyah pada waktu ini sangat penting, karena umat Islam sedang dirongrong oleh kekuatan internasional yang sangat besar”.

Semasa hidupnya Rasjidi seorang yang aktif dalam kegiatan ilmiah dan dakwah. Ia menuangkan buah pikiran dan pandangan-pandangannya yang jernih melalui buku dan artikel. Buku-buku karya Rasjidi yang saya catat, di antaranya: Filsafat Agama, Agama dan Etik, Islam dan Sosialisme, Islam Menentang Komunisme, Islam dan Kebatinan, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam?, Islam dan Indonesia Di Zaman Modern, Koreksi Terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Keutamaan Hukum Islam, Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi, Falsafah Agama, Islam dan Teori-teori Politik, Sikap Umat Islam Indonesia Terhadap Ekspansi Kristen, Kasus RUU Perkawinan dalam Hubungan Islam dan Kristen, Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia di Jakarta 1975 artinya Bagi Dunia Islam, Dari Rasjidi dan Maududi kepada Paus Paulus VI, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional (tanggapan terhadap tulisan AMW Pranarka), Hukum Islam dan Pelaksanaannya dalam Sejarah, Apa itu Syi’ah?, dan Hendak Dibawa Kemana Umat Ini?

Selain itu, ia juga menerjemahkan beberapa karya pemikiran Barat ke dalam bahasa Indonesia, seperti: Bible, Quran dan Sains Modern (Maurice Bucaille), Humanisme dalam Islam (Marcel A.Boisard), Janji-Janji Islam (Roger Garaudy), dan Persoalan-Persoalan Filsafat (Harold A. Titus).

Dalam buku Agama dan Etik (1972) Rasjidi mengemukakan bahwa etika menurut ajaran Islam adalah etika yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan dan sesudahnya, dan dalam kehidupan nasional maupun internasional. “Jika nama “Islam” tidak dapat diterima, saya tidak berpegang pada nama, akan tetapi yang perlu bagi kita adalah ajaran-ajaran itu sendiri.” tandasnya.

Ketika Prof. Dr. Harun Nasution, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menulis buku teks untuk perguruan tinggi agama Islam berjudul Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Rasjidi merasa terpanggil untuk mengkritisinya. Setelah menunggu dua tahun surat pribadinya yang mengusulkan agar Departemen Agama mengambil tindakan atas buku tersebut tidak dijawab oleh Menteri Agama, Rasjidi akhirnya menerbitkan buku dengan judul: Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” (1977).Cara pandang buku Harun Nasution terhadap Islam “dibongkar” oleh Rasjidi lewat buku yang ditulisnya. Tulisan Harun Nasution lainnya tentang Akal dan Wahyu juga disanggah oleh Rasjidi secara tertulis. Dengan demikian Rasjidi sebagai guru bangsa telah mencontohkan tradisi ilmiah dalam mengkritik dan menyanggah buku hasil karya orang lain dilakukan dengan menulis buku. Kendati berseberangan pendapat dan berlawanan pemikiran, Rasjidi dan Harun Nasution adalah dua pribadi besar yang saling menghargai dan tidak memutus silaturahim.

Dalam buku terjemahan Bibel, Qur’an dan Sains Modern (1978), menarik disimak prolog yang ditulis Rasjidi tertanggal 1 September 1978 sebagai berikut:  “Pada bulan Maret 1977 saya mendapat kesempatan untuk menghadiri konferensi internasional Islam Kristen di kota Kordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat berfaedah, karena memberi gambaran kepada saya tentang masa gemilang umat Islam di negeri Spanyol. Masjid Kurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan tahun 786) itu masih berdiri dengan megahnya, walaupun sudah tidak dipakai untuk sembahyang dan di dalamnya telah didirikan sebuah katedral. Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi kota Paris untuk mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis saya di Sarbonne. Pada suatu hari, saya mengunjungi Masjid Paris yang megah. Di tempat itu saya ketemukan buku yang berjudul La Bible, le Coran et la science. Segera saya membeli satu naskah. Buku itu saya baca sampai tamat.  Buku tersebut telah menarik hati saya. Seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis, yaitu Dr. Maurice Bucaille telah mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Quran serta sains modern. Akhirnya ia mendapatkan kesimpulan bahwa dalam Bibel terdapat kesalahan-kesalahan ilmiah dan sejarah, karena Bibel telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dimuat oleh manusia. Mengenai Al Quran ia berpendapat bahwa sangat mengherankan bahwa wahyu yang diturunkan 14 abad yang lampau, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad ke-20 atau abad ke-19 dan ke-18. Atas dasar itu Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Quran adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.”

Rasjidi mengungkapkan, “Setelah membaca buku tersebut, saya merasa bahwa saya harus menyampaikan isi buku tersebut kepada bangsa Indonesia, yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada agama. Maka saya terjemahkan buku tersebut, dengan harapan mudah-mudahan isinya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mencari kebenaran dan mencari pegangan hidup, khususnya para cendekiawan yang tidak sempat mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan.”

Pandangan terhadap perkembangan Islam kontemporer di Indonesia pernah diutarakan oleh Rasjidi, “Menggembirakan. Dulu di zaman Belanda hanya sedikit orang Islam yang berminat kepada Islam, kini jamaah masjid dan majelis ta’lim melimpah. Ternyata perkembangan Islam itu tidak bisa dihambat. Itu semua berkat kerja keras kita bersama. Anak-anak demikian bergairah. Tetapi bahwa ada di antara anak-anak muda itu yang berpikiran aneh-aneh dan menjual dirinya untuk kepentingan sesaat, tentu sangat disayangkan. Saya yakin tanpa berpikiran aneh dan menjual diri, Islam ini akan tetap berkembang.” tegas Rasjidi kepada Serial Media Da’wah.

Semasa hidupnya Rasjidi memperoleh tanda penghargaan Bintang Mahaputera Utama atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara yang diserahkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara pada 15 Agustus 1989. Ia dianugerahi Bintang Mahaputera berdasarkan usulan dari Departemen Luar Negeri. “Saya sendiri heran. Bintang Mahaputera itu kan kecil saja, tapi telepon di rumah saya terus menerus berdering-dering menanyakan soal itu. Belum lagi kawat (telegram), dan permohonan wawancara dari berbagai media massa yang datang bertubi-tubi,” ungkap beliau kepada Mohammad Syah Agusdin dan Lukman Hakiem dari Serial Media Dakwah yang mewawancarainya satu hari menjelang peringatan hari ulang tahun ke-44 kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1989.

Perjumpaan saya dengan Pak Rasjidi di kediamannya dalam dekade 1990-an merupakan satu kenangan yang tak terlupakan. Setelah Pak Rasjidi wafat saya sempat beberapa kali silaturahim dan menjenguk Ibu Hj. Siti Sa’adah Rasjidi yang kini juga telah berpulang. Saya ikut hadir melepas jenazah almarhum Pak Rasjidi dari Rumah Sakit Islam Jakarta di Cempaka Putih menjelang diberangkatkan dengan pesawat terbang ke Yogyakarta. Tokoh Islam yang hafal Al-Quran itu dimakamkan di pemakaman keluarga di Kotagede Yogyakarta.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *