Minggu, 17 Desember 17 | 01:49 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Founder We The Teachers, Amanda Witdarmono

Founder We The Teachers, Amanda Witdarmono
* Founder We The Teachers, Amanda Witdarmono

Perempuan muda anggun ini boleh berbangga hati mewakili Indonesia dalam forum tingkat dunia, World Economic Forum (WEF).

Partisipasi pertamanya di WEF dimulai tahun 2015 sebagai peserta WEF di Davos dan Geneva, Swiss. Amanda Putri Witdarmono bergabung dengan WEF sejak 2012 melalui Global Shapers (GS). Komunitas ini diinisiasi WEF sebagai jaringan anak muda berpotensi, berprestasi, dan berkontribusi terhadap masyarakat.

Sebelum itu, dia pernah ‘mencicipi’ bekerja di tim editorial media anak-anak ‘Berani’ dan membantu Kantor Gubernur Jakarta. Penelitiannya telah diakui UNESCO, IMF, dan Comparative and International Education Society (CIES). Amanda terpilih dalam WEF, karena memprakarsai We The Teachers, sebuah gerakan dan studi tentang keadaan profesional guru-guru Indonesia, sekaligus mewadahi passion-nya dalam pendidikan.

“Saya ingin mendorong para guru untuk cepat beradaptasi dan selaras dengan tuntutan zaman. Kegiatan yang dilakukan biasanya berupa pelatihan bagi para guru atau berbagi melalui wadah website yang kami buat,” jelasnya.

Wanita kelahiran 7 Oktober 1988 ini mengambil S1 Pendidikan Dasar di Boston University, Amerika Serikat dan melanjutkan S2 Pengembangan Pendidikan Internasional di Teachers College, Columbia University, Amerika. Dia merasa beruntung mengenyam pendidikan di lembaga-lembaga terbaik dan memulai kariernya di dunia pendidikan sebagai seorang guru sekolah dasar.

“Saya sangat suka bekerja dengan anak-anak. Sehingga saya merasa penting untuk mengetahui secara spesifik, apa tujuan dari pendalaman jurusan pendidikan ini, karena terbagi beberapa segmen. Saat menempuh pendidikan sarjana, saya banyak mempelajari ilmu teknis, seperti cara mengelola kelas atau bagaimana integrasi media dan teknologi dengan interaksi siswa maupun guru. Sementara, di pascasarjana lebih pada analisa kurikulum dan memastikan sebuah pelayanan pendidikan publik bermanfaat bagi masyarakat sekelilingnya. Pendidikan bukan selalu berarti mengajar dalam ruang kelas, karena lingkupnya luas. Indonesia can always use more educators,” ujar wanita yang pernah mewakili Jakarta dalam ajang Puteri Indonesia tahun 2008 dan meraih predikat sebagai Puteri Pendidikan ini. (Naskah: Angie Diyya, Foto: Istimewa)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *