Senin, 11 Desember 17 | 11:20 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

FOTO Esai ‘Mengembalikan Sejarah Tionghoa’

FOTO Esai ‘Mengembalikan Sejarah Tionghoa’
Photo Credit To Plat nama sekolah Tiong Hoa Hwee Koan pada tahun 1900.

BERAWAL dari hobi membaca, akhirnya Azmi Abu Bakar mengundurkan diri dari salah satu perusahaan di Jakarta untuk membuka usaha toko buku. Pria asal Aceh ini tertarik untuk mempelajari kebudayaan Tionghoa tentang diskriminasi etnis di suatu negara. Sehingga mahasiswa lulusan Teknik Sipil di Institut Teknologi Indonesia di Tangerang ini membuka Museum Pustaka Peranakan Tionghoa untuk mendokumentasikan kembali sejarah etnis Tionghoa di Indonesia. Museum tersebut berlokasi di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten.

Sederet papan nama bekas tampak dipajang di pintu masuk Museum dan jendela kaca ruko bertuliskan Lie kim in. Tjia Gwan Soei. Teng Tjwan Seng. Oei Djoe Gwan, di mana pada suatu masa, papan itu memang pernah berjaya menandai rumah mereka.

Papan nama menjadi bagian ingatan negeri ini ketika sebuah kekuasaan berusaha memberangus budaya Tionghoa. Salah satunya, peraturan yang “mengimbau” untuk mengganti nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Padahal, orang-orang Tionghoa telah menghuni Nusantara sejak ratusan tahun silam. “Bagaimana dia mengubur namanya dengan membalik papan nama—dan menuliskannya dengan nama baru.

Pada tahun 300an seorang pendeta bernama Fa Hian yang berasal dari Tiongkok melakukan perjalanan ke India, saat perjalanan pulang, ia singgah di Jawa selama lima bulan. Berdasarkan buku catatan yang dibuat oleh Fa Hian, bahwa ia telah menemukan kipas bermotif Cina.

Dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, para imigran Tiongkok pun mulai berdatangan, terutama untuk kepentingan perdagangan. Pada prasasti – prasasti dari Jawa orang Tionghoa disebut-sebut sebagai warga asing yang menetap di samping nama-nama sukubangsa dari Nusantara, daratan Asia Tenggara dan anak benua India. Dalam suatu prasasti perunggu bertahun 860 dari Jawa Timur disebut suatu istilah, Juru Cina, yang berkait dengan jabatan pengurus orang-orang Tionghoa yang tinggal di sana.

Azmi mengatakan banyak yang ingin mendanai Museumnya tersebut, tetapi Azmi menolak karena dia yakin bahwa museum yang dibangun itu bukan untuk komersil. (Edwin B/Obsessionnews)

 

Buku-buku dan beberapa figura.
Buku-buku dan beberapa figura.

 

Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi.
Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abu Bakar

 

Patung terakota seukuran manusia, yang menampilkan sosok prajurit Tiongkok klasik.
Patung terakota seukuran manusia, yang menampilkan sosok prajurit Tiongkok klasik.

 

Beng menunjukkan foto Pahlawan Nasional dari etnis Tionghoa, John Lie (kedua dari kanan).
Bambang Sriyono menunjukkan foto Pahlawan Nasional dari etnis Tionghoa, John Lie (kedua dari kanan).

 

Beberapa foto dan pernak-pernik Tionghoa.
Beberapa foto dan pernak-pernik Tionghoa.

 

Sederet papan nama bekas.
Sederet papan nama bekas.

 

Azmi bersama keluarga dan kerabat.
Azmi bersama keluarga dan kerabat.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *