Senin, 18 Desember 17 | 21:43 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Filantropis, Butet Manurung

Filantropis, Butet Manurung
* Filantropis, Butet Manurung

Tergerak dari kondisi suku-suku pedalaman yang kerap diperdaya, Butet maju membawa bekal pendidikan. Dia ‘merangkai’ pendidikan yang mencintai keragaman sejak 15 tahun silam.

Banyak yang mengira perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung yang akrab disapa Butet ini adalah pribadi tempramental, karena berasal dari suku Batak. Namun nyatanya, dia adalah seorang berhati mulia dan bersuara lembut. Butet sukses mendirikan Sokola Rimba yang saat ini memiliki 11 cabang di suku-suku pedalaman Indonesia dan ini semua merupakan hasil jerih payahnya selama ini.

Sebelum mendirikan Sokola Rimba, perempuan kelahiran 21 Februari 1972 ini menamatkan studi antropologi dan sastra Indonesia di Universitas Padjajaran Bandung. Setelah lulus, dia mengawali kariernya sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon. Hingga pada tahun 1999, dia membaca lowongan kerja di Harian Kompas sebagai fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba, Jambi. Pekerjaan ini berada di bawah Lembaga Swadaya Masyarakat Warung Informasi Konservasi (Warsi). Hatinya berkata bahwa ini adalah pekerjaan yang memang dicari-cari dirinya.

Setelah tiga tahun bekerja untuk Warsi, dia beserta empat kawannya mendirikan sebuah LSM pendidikan untuk suku terasing di Indonesia. Target pertamanya adalah masyarakat Rimba (suku kubu). Dia tidak terima melihat suku kubu yang ditipu oleh orang-orang berpendidikan tidak bermoral, karena tidak bisa membaca dan menulis. Pada awalnya, dia tidak mudah mendapatkan hati masyarakat setempat.

Kedatangan orang asing dianggap hanya membawa malapetaka bagi kehidupan suku kubu. Namun, penggemar film detektif ini tidak menyerah begitu saja, dia terus mencoba mendekati secara persuasif. Hingga akhirnya, perlahan beberapa anak menghampirinya untuk diajarkan membaca, berhitung, dan berkembang menjadi pelajaran lainnya.

Pada November 2016, dia menghadiri acara Final Gramedia Reading Community Competition. Sarjana antropologi ini bercerita minat membaca masyarakat pedalaman ternyata cenderung lebih besar, dibandingkan dengan orang kota. Hal ini terbukti dari pola perilaku mereka yang akan langsung mempraktikkan segala sesuatu yang telah dibaca. Hal ini terjadi, karena mereka memang telah belajar mengenai kehidupan sedari kecil.

“Kalau kita mengenalkan baca tulis dengan menyenangkan, secara otomatis buku itu akan mereka terima. Asal kita mengajarinya sesuai dengan aktivitas keseharian mereka,” tandas peraih penghargaan Heroes of Asia Award 2004 Majalah Time dan Ramon Magsaysay Award 2014 ini. (Naskah: Syifa Evizareta, Foto: Istimewa)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017.

Post source : Filantropis, Butet, Manurung

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *