Senin, 11 Desember 17 | 16:15 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Di Mana Kamu Saat KERUSUHAN MEI 98? Kalian Sibuk Menulis Kata PRIBUMI…?

Di Mana Kamu Saat KERUSUHAN MEI 98? Kalian Sibuk Menulis Kata PRIBUMI…?
Photo Credit To ilustrasi (ist)

Oleh: Agi Betha (Wartawan senior)

Begitulah ketika pemilik kemerdekaan dijajah di kampungnya sendiri.
Dijajah ekonominya, dikangkangi medianya, disatroni pemikirannya, serta diSARA-SARAkan kata-kata nya.

Kata PRIBUMI adalah kata nan sakti.
Penyelamat nyawa nan ampuh saat diperlukan.
Ditendang ke Bareskrim ketika dipolitikkan.

Jaman Soekarno. Kata ‘Pribumi’ digunakan sebagai pembangkit gairah perjuangan. Perlawanan atas nama ‘Pribumi’ adalah erotisme kematian melawan penjajahan.
‘Pribumi bersatu, kolonialisme runtuh.’

Jaman Soeharto. Penggunaan ‘Pribumi’ pada nama organisasi memudahkan pemerintah memilah subsidi dan keberpihakan. Himpunan Pengusaha Lemah Indonesia, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, anggotanya multi suku. Mewakili wajah pribumi susah. Mereka mudah ditandai untuk dibantu.
Phrase ‘Pribumi’ menjadi alat perjuangan untuk memohon pemerataan ekonomi.

Di era hiruk pikuk reformasi. Kerusuhan 1998.
Kata ‘Pribumi’ adalah alat penyelamat nyawa nan ampuh. Etnis china memperalatnya. Menyukai amat sangat kata ‘Pribumi’, hingga muka terlihat mereka rela ditulisi ‘Pribumi’. Toko2, gedung2, dan pagar2 rumah rapat nan tinggi itu, jadi

memiliki satu alamat yang sama: PRIBUMI.

Cat warna-warni ‘Pribumi’ berhasil menyelamatkan harta benda mereka. Sedangkan tubuh dan nyawa pemiliknya, banyak menitipkan diri ke sanak tetangga yang tidak perlu mengaku2 pribumi.

Namun kini. Di era demokrasi, katanya.
Pribumi hendak dihilangkan. Kata itu dipaksakan ke dalam kelompok kosa kata kebencian.
Manusia dicuci otak bahwa ‘pribumi’ adalah momok. Padahal pribumi tidak meneriakkan ‘taik nenek lo sialan’, tidak meruntuhkan pagar, tidak membakar lilin, dan tidak menyampah di ibukota.

Pribumi Harga Mati, yaitu lawanlah kata pribumi itu maka kau akan dihargai sampai dirimu senang setengah mati. Maka PRIBUMI dipolitikkan, disara-sarakan, dan dipermasalahkan.

Oleh siapa..? Oleh orang-orang yang tak mau mengakui bahwa napas yang menghidupi tubuh mereka itu kini, adalah hasil tukar nyawa para pendekar Pejuang Pribumi dahulu.

ALLAHU AKBAR..!

Jangan bersedih.
Jangan menyerah.
Jangan anarkis.

Sikap pantang menyerah pribumi dalam melawan hegemoni kemunafikan dan kolonialisme dululah, yang telah menghasilkan Kemerdekaan kini.

Maka jangan sakit dan pasrah.
Raih lagi kemerdekaan berpendapat, berpikir, dan kebebasan berkata-kata.
Karena penjara yang sesungguhnya adalah ketika tubuhmu bisa melangkah, matamu nanar menatap langit, hatimu berdegub dirasuk rindu keadilan, tapi pikiranmu diberangus dan mulutmu dibisukan.

Lakukan perlawanan seperti tegak gagahnya para pejuang Laskar Pribumi!
Sekali lagi..!!

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *