Senin, 25 Juni 18

Suripto Di Mata Fahri Hamzah

Suripto Di Mata Fahri Hamzah
* Buku "Menguak Tabir Perjuangan Suripto".

Berbicara tentang dunia intelijen di Indonesia tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok Suripto.  Perjalanan hidupnya dituangkan dalam buku bejudul Menguak Tabir Perjuangan Suripto yang diterbitkan Aksara Jakarta tahun 2001. Buku ini ditulis oleh Andy Jauhari. Sejumlah tokoh memberikan komentar yang dimuat di Bab: Suripto di Mata Sejumlah Tokoh, halaman 236 – 238.

Dikenal anti PKI,  pria  kelahiran Bandung, 20 November 1936 ini  mengikuti pendidikan militer sukarela (Milsuk), setelah meraih gelar sarjana hukum pada 1964.

Setahun kemudian ia direkrut Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), sebagai anggota Tim Sarjana G (Gabungan) V Komando Mandala Siaga.

Di era Orde Baru, karier intelijen Suripto kian mencorong. Tak salah jika periode 1966-1967, pria kelahiran Bandung ini dipercaya menjadi staf G (Gabungan) 1 Komando Operasi Tertinggi (Koti) yang membidangi intelijen.

Setidaknya, sikap anti PKI Suripto tersalurkan ketika bergabung dengan TNI-AD, yang notabene menjadi target serangan PKI.

Kariernya di dunia intelijen terus menanjak. Periode 1967-1970, Suripto menjalankan tugas sebagai staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Bersama dengan sejumlah tokoh akademis seperti Yuwono Sudarsono dan Fuad Hassan, Suripto menjadi tulang punggung Lembaga Studi Strategis (LSS). Lembaga di bawah Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) Dephankam.

Di era reformasi Suripto menjadi Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 1999-2001.

Pada Pemilu 2004 Suripto terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2004-2009.

Fahri Hamzah.

Kembali ke buku Menguak Tabir Perjuangan Suripto. Salah seorang tokoh yang memberikan  pandangan tentang Suripto di buku itu adalah Fahri Hamzah, salah seorang pendiri  Partai Keadilan (PK) yang kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saat ini Fahri adalah Wakil Ketua DPR.

Berikut kutipan Suripto di mata Fahri Hamzah:

Sebenarnya jasa Suripto dalam gerakan mahasiswa luar biasa banyaknya. Beliau membantu dinamika kampus pada zaman otoriter di bawah rezim Orde Baru. Mendikbud Fuad Hassan memberi wewenang kepada Suripto untuk menumbuhkan kembali gerakan mahasiswa.

Itu berbalik 180 derajat dengan zaman otoriter di bawah rezim Orde Baru yang tekananya terhadap berbagai gerakan mahasiswa sangat terasa. Apalagi Pembantu Rektor III berperan sebagai aparat ‘BAKIN’ yang meng-intel-I gerakan mahasiswa, memberikan masukan kepada pemerintah.

Buat saya pribadi, salah satu jasa Suripto adalah ia telah memberikan rekomendasi agar kegiatan-kegiatan kampus, terutama di masjid kampus juga didukung.

Fahri Hamzah ketika deklarasi PK 9 Agustus 1998.

Suripto berhasil memainkan situasi yang menggambarkan bahwa mahasiswa itu memang tidak perlu dicurigai. Biarkanlah mereka hidup berkembang sesuai dengan dunia dan dinamika kemahasiswaan. Nah, saya kira Suripto telah berhasil memainkan sesuatu yang suatu hari mengubah sejarah kita karena kemudian aktivisme di kampus ternyata tidak mati, tetapi tumbuh dalam perspektif dan keberagaman yang luar biasa, termasuk bagi saya yangberasal dari kader masjid kampus (Fahri juga pernah menjadi Ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Mataram dan kini aktivis Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia).

Saya perlu mengatakan bahwa tumbuhnya masjid kampus itu jug atas kebijakan yang diupayakan oleh Suripto dalam memberikan dukungan pada tumbuhnya kegiatan masjid kampus.

Saya kira hampir semua tokoh mahasiswa dalam gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menumbangkan Presiden Soeharto saat itu mengenal sosok Suripto,  dan bagi Suripto tidak ada beban karena memang beliau bukan pendukung rezim Suharto.

Meskipun Suripto dikenal juga sebagai orang intelijen, tetapi kehadirannya justru dibutuhkan. Intel itu dua muka, tergantung bagaimana menggunakan informasi yang kita berikan.

Dua muka itu, tergantung apakah seorang intel itu mau membela siapa, kalau membela gerakan mahasiswa, rakyat, intel akan menjelaskan bahwa sekarang mahasiswa sudah tidak bisa diganggu lagi, dia kuat dan bersatu dengan rakyat. Satu mahasiswa terbunuh, rakyat bisa mengamuk dan sebagainya. Namun jika intel membela tentara, tidak boleh membela mahasiswa. Jatuhnya Soeharto juga karena kerja intelijen yang hebat, bukan semata-mata dari gerakan mahasiswa.

Waktu itu Suripto membuat tulisan tentang gerakan mahasiswa 1998 dan data itu diberikan kepada tentara, yang saya kira menyebabkan tentara kemudia menjadi semacam mengambil posisi di pihak yang relatif baik dan kondusif meskipun pada saat itu ada korban meninggal dunia dari mahasiswa yang ditembak tentara.

Bahkan saya dengar, pada detik-detik terakhir kejatuhan Soeharto, Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto, saat itu maju, dan mengatakan kepada Soeharto, “Pak, ini kita sudah nggak tahan nih, dan kita tidak mungkin menembaki mahasiswa sekarang ini.”

Hal itu yang mungkin menyebabkan Soeharto tidak ugal-ugalan mempertahankan diri dengan menghadang gerakan mahasiswa di Monas.

Yang saya dengar, peristiwa tersebut tidak lepas dari peran Suripto yang memberikan informasi, analisis intelijen yang berkembang. Kalau tentara mau tahu tentang mahasiswa waktu itu, Suripto yang menjadi referensinya.

Suripto itu memiliki perhatian pada mahasiswa. Saya mempunyai pengalaman, Suripto pernah datang ke tempat tinggal saya yang berukuran 4 x 4 meter di sebuah gang kecil di Jalan Utan Kayu, Jakarta Pusat, waktu itu saya sakit, dan berbicara lama tentang perjuangan mahasiswa. (Wawancara, 9 Maret 2001). (arh)

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.