Senin, 25 Juni 18

Neni Moerniaeni dan 16 Inovasi Pelayanan Publik yang Menakjubkan

Neni Moerniaeni dan 16 Inovasi Pelayanan Publik yang Menakjubkan
* Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni. (Foto: Dok. JBN)

Neni Moerniaeni yang terpilih sebagai Wali Kota Bontang lewat jalur independen pada Pilkada 2015, membuat sejumlah gebrakan untuk memajukan daerahnya. Salah satu di antaranya ia membuat 16 inovasi publik yang mendapat penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2017 dari Kementerian Dalam Negeri.

 

Bontang, Obsessionnews.com – Neni Moerniaeni salah seorang sosok wanita tangguh di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Perjalanan hidupnya penuh warna. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, tahun 1989 ini pernah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim, dan juga menjadi dokter umum di Rumah Sakit Umum Wahab Samarinda.

Aktivitasnya semakin bertambah ketika suaminya, Andi Sofyan Hasdam, menjadi Wali Kota Bontang selama dua periode, yakni 2001-2006, dan 2006-2011. Pada periode 2001-2011 Neni menjadi Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Bontang, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Bontang, dan Ketua Forum Pemberdayaan Penyandang Cacat Bontang.

Aktivitas lainnya adalah Neni mengikuti jejak suaminya bergelut di dunia politik. Neni aktif di Partai Golkar, dan hebatnya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar Bontang.

Melalui kendaraan Golkar pada Pemilu 2009 Neni terpilih menjadi anggota DPRD Bontang. Ia juga berhasil menduduki kursi Ketua DPRD Bontang periode 2009-2014.

Pada Pemilu 2014 Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar memberi kepercayaan kepada Neni menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari daerah pemilihan (dapil) Kaltim dengan nomor urut 5. Politisi kelahiran Jakarta, 30 Juli 1960 ini meraih 61.405 suara, dan ia berhasil mewujudkan obsesinya menjadi anggota DPR RI untuk periode 2014-2019.

Ibu tiga anak ini semula bertugas di Komisi VII yang membidangi energi dan sumber daya mineral (ESDM) dan lingkungan hidup. Kemudian dimutasi ke Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan.

Pada 10 Juni 2015 Neni mengundurkan diri menjadi anggota DPR, karena maju sebagai calon Wali Kota Bontang. Ia berpasangan dengan Basri Rase. Perjuangan Neni di Pilkada 2015 tidaklah mudah. DPP Golkar tidak mendukungnya. Golkar dan semua partai politik mendukung pasangan calon petahana, Adi Darma-Isro Umarghani.

Neni-Basri yang maju lewat jalur independen secara mengejutkan mengalahkan Adi-Isro. Neni-Basri memperoleh 44.300 suara atau 35,7 persen, sedangkan Adi-Isro mendapat 35.018 suara (28,2 persen).

Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang di bawah kepemimpinan duet Neni- Basri meraih peringkat I pada Smart Region Maturity Index (SRMI) 2016. Di ajang SRMI ini Bontang cukup mengagumkan, karena tahun 2015 Bontang bertengger di posisi 5 besar. Sedangkan pada 2016 berhasil meraih peringkat pertama dengan menyingkirkan 40 kota se-Indonesia.

Neni mengatakan, penghargaan ini mempertegas komitmen pemerintah untuk mewujudkan program Smart City. Di mana Smart Region dibangun untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih aman, lebih mudah, lebih sehat, dan lebih makmur dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, serta inovasi yang diarahkan untuk perbaikan kinerja, mengurangi biaya dengan melibatkan partisipasi masyarakat,” ucap Neni.

Alhamdulillah, penghargaan ini bukti program Smart City sudah mendapat apresiasi dari pusat, di saat program ini sedang on the track. Tentu penghargaan ini menjadi tolak ukur di mana yang menjadikan studi ini memiliki kelebihan dari studi tentang pemeringkatan daerah lainnya karena telah memanfaatkan metode big data analytic yang dikembangkan oleh Citiasia,Inc. yang disebut Big CAT (Citiasia Tools for Big Data Analytic). Hal ini memungkinkan diolahnya data yang berskala masif dan beragam secara cepat dan akurat,” kata Neni saat menerima penghargaan tersebut di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa, 29 November 2016.

Ditambahkannya,  pada Smart Region Index, terdapat enam dimensi yang diukur, yaitu dimensi smart governance, smart branding, smart livingsmart society, dan smart environment.

Prestasi lain di tingkat nasional adalah Bontang berhasil memperoleh penghargaan dari Pemerintah RI atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2016 dengan capaian standar tertinggi dalam sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah.

Penghargaan yang ditandatangani Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati diserahkan Kepala Kanwil DJPb Kaltim Midden Sihombing kepada Neni Moerniaeni dalam acara Evaluasi Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik di Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Kamis (23/11/2017).

Selain itu Bontang juga menyabet Innovative Government Award (IGA) yang digelar Kementerian Dalam Negeri tahun 2017. Penghargaan ini  diserahkan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo kepada Neni Moerniaeni di Puri Agung Hotel Sahid Jaya, Senin (18/12/2017).

Penghargaan itu diberikan terhadap 16 inovasi yang telah dilakukan Pemkot Bontang dalam menyediakan pelayanan publik sesuai kebutuhan masyarakat Bontang.  Inovasi-inovasi yang menakjubkan tersebut antara lain Program Pendidikan Anak-anak Pulau (Prodikau), Internet Gratis bagi Komunitas Nelayan Kepulauan dan Pesisir (Interkoneksi), Perizinan Jemput Bola (Papi Jempol), dan Sistem Administrasi Pelayanan Masyarakat Tanpa Menunggu (Sapa Ratu).

Prestasi lain yang diukir Neni adalah ia berhasil menurunkan angka kemiskinan di daerahnya. Pada 2015 tercatat angka kemiskinan 6.077 Kepala Keluarga (KK), lalu menurun menjadi 5.725 KK pada 2016. Terjadi pengurangan kemiskinan 352 KK. Terdapat beberapa program pengentasan kemiskinan, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), penyaluran beras sejahtera (rastra). (Arif RH)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.