Senin, 25 Juni 18

Meneropong Pilgub Jatim (5)

Meneropong Pilgub Jatim (5)

SANDI SRIKANDI DI PILGUB JATIM

Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Srikandi tangguh tak bisa berlepas dari hajatan pemilu. Hiruk pikuknya pasca reformasi kian membahana. Perempuan wajib terjun ke politik praktis. Batasan 30% partisipasi politik dianggap obat mujarab. Tak mengherankan, partai politik membuka peluang lebar. Fakta ini bisa ditunjukan dengan keterpilihan beberapa sosok perempuan menjadi kepala daerah dan mencalonkan diri sebagai legislatif.

Fakta di Jawa Timur pun demikian. Sosok fenomenal Tri Rismaharini (walikota Surabaya), Kartika Handayani (Wakil Bupati Lamongan), dan perempuan di kursi legislatif. Hal yang cukup sontak yaitu perjuangan Khofifah Indarparawansah dalam merebut peruntungan. Jadi Jatim-1. Pun ada pesaing beratnya Cawagub Puti Guntur Soekarno. Baik Khofifah maupun Puti, menjadi kembang dalam pilgub Jawa Timur (Jatim).

Kehadiran keduanya tidak bisa dilepaskan dari semangat emak-emak militan. Barisan emak-emak dalam partai politik, intelektual, politisi, tokoh, dan perempuan pada umumnya turut memberikan sandi. Nah, siapakah srikandi yang turut serta dalam hiruk pikuknya? Bagaimanakah peranan poltik sesungguhnya?

Sandi Srikandi

Berikut sandi para srikandi pendukung cagub cawagub:

1. Koalisi Perempuan Pemenangan (KPP)

KPP merupakan organisasi sayap partai pengusung Pasangan Khofifah-Emil. Seperti Srikandi Demokrat (Demokrat), Wanita Persatuan Pembangunan (PPP), Kelompok Perempuan Partai Golkar (Golkar), Srikandi Hanura (Hanura), Garda Wanita Malahayati (Nasdem), Perempuan Amanat Nasional (PAN).

Target srikandi ini untuk mencari dan meraup suara pendukung dan tentunya mencoblos Khofifah-Emil. Sayap partai ini akan bekerja menjelang hajatan tiba. Pasalnya, kehadiran perempuan di TPS menjadi harta karun. Sayang jika tidak diarahkan. Selain itu, kerja organisasi sayap akan door to door. Gerakan di lapangan akan menyapa kaum hawa. Akankah kaum hawa mampu terpengaruh dengan gerak ini? Inilah ikhtiar komunikasi politik yang dibangun setiap paslon dan pendukungnya.

2. Bu Nyai Pengasuh Pesantren

Kehadiran Bu Nyai menjadi entitas berbeda dalam belantika politik. Pasalnya, tak banyak ditemui bu Nyai ikut politik praktis. Kesibukan harian mengurus santri ternyata tak membuat patah hati. Pada pilgub Jatim, bu Nyai mencoba turun gunung. Deklarasi demi deklarasi sudah dilakukan dengan menggandeng ratusan pesantren Jatim.

Menarik mencermati 5 poin ikrar perwakilan Bu Nyai dalam mendukung Gus Ipul.

1. Berpegang teguh pada aqidah atau ajaran, nilai, dan tradisi Islam ahlussunah wal jamaah. Senantiasa setia dan tunduk pada keputusan Nahdlatul Ulama.

2. Berkomitmen untuk senantiasa menjaga dan menciptakan situasi dan kondisi Jatim yang aman dan kondusif serta pemilu yang damai dan bermartabat.

3. Bersedia menyatukan langkah dan tekad bergerak bersama satu komando satu barisan dalam mengawal dan mendukung calon gubernur dan wakil gubernur pada pilkada Jatim 2018.

4. Bersedia berperan aktif dan siap dhohir dan bathin untuk memenangkan calon gubernur dan wakil wakil gubernur Jatim pada Pilkada Jatim 2018.

5. Pantang menyerah dan putus asa serta akan berdiri di garda terdepan dalam mengawal kemenangan calong gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada Jatim 2018.

Catatan untuk Srikandi

Srikandi yang turut menyukseskan perhelatan pilgub Jatim 2018, haruslah memahami beberapa hal. Jangan sampai kehadirannya sekadar bunga-bunga dan pemanis. Ada tujuan penting dalam berpolitik khususnya kaum perempuan.

Berikut poin pentingnya:

Pertama, perempuan haruslah memahami problem yang terjadi di Jatim. Ketimpangan sosial dan ekonomi. Hilangnya rasa aman dan rusaknya pranata sosial, harus disoroti. Belum lagi persoalan sistemik yang membelit perempuan dalam himpitan ekonomi dan ketertindasan oleh sistem kapitalis liberal.

Kedua, tiada berbeda politik perempuan dan laki-laki. Keduanya memiliki peranan yang sama. Hal yang perlu diingat, pilgub ini dalam terma demokrasi. Karenanya, jika hanya alasan ingin ada gubernur dari kelompok yang sama atau gender yang sama, maka perubahan tidak akan ada. Karena siapapun gubernurnya, dia tetap melaksanakan sistem yang sama. Pemaknaan perubahan harus secara sistemik, baik orang maupun sistemnya.

Ketiga, jumlah pemilih perempuan di Pilgub mencapai 51%. Artinya, perebutan suaranya akan berlangsung sengit dengan tawaran program pro perempuan. Yang harus dicermati secara seksama ialah, mampukah paslon itu mewujudkan janjinya selama kampanye? Jangan-jangan jargon itu untuk sekadar mengambil suara. Setelah itu terserah mereka.

Keempat, perempuan sebagai warga Jatim mayoritas belum ‘melek politik’. Karena itu, tugas politisi perempuan dan partai politik jangan sampai menjadikan perempuan sebagai obyek. Mereka adalah manusia yang harus dididik secara benar politik. Politik yang bermakna mengurusi urusan kehidupan manusia. Bukan politik yang sekadar mencoblos calon ini dan itu.

Kelima, tugas politik perempuan sesungguhnya yaitu dia hadir dalam mengoreksi setiap kebijakan penguasa yang jauh dari syariah. Menyampaikan kritik solutif berdasarkan nilai-nilai keislaman. Terlebih yang bertitel sebagai bu Nyai yang dianggap mumpuni secara pemahaman Islam. Selain itu, perempuan harus turut serta dalam proses perubahan kehidupan menjadi lebih baik dan diridhoi Allah.

Tetap waspada bagi perempuan dalam musim pilkada. Suaramu itu emas. Jangan gadaikan emas itu untuk sekadar mendapatkan sekerat tulang dunia. Pastikan diri Anda, tampil menawan untuk sadar bahwa jangan mau lagi dikibuli dengan janji. Apalagi sekadar bemper politik. (***)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.