Sabtu, 16 Desember 17 | 10:15 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Berbuka dengan yang Asin

Berbuka dengan yang Asin
* Pedagang gorengan di Antapani, Bandung.

Pada bulan puasa ini, ada fenomena yang cukup unik saya jumpai di Bandung. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang gorengan ramai dikerubungi pembeli.  Gorengan seperti bala-bala (sejenis bakwan), tempe mendoan, tempe goreng, gehu (tahu goreng yang berisi sayur toge dan kol), comro, cireng, pisang goreng yang  mengkal, perkedel jagung, dan lain-lain, laris dibeli orang.   Semuanya, kecuali pisang goreng, adalah jajanan yang rasanya asin.

Tampilan gorengan yang tampak krispi memang menggoda selera siapapun yang melihatnya.  Di Indonesia gorengan sering menjadi makanan pembuka sebelum makanan utama.  Bila ada gorengan di atas meja, maka itulah yang dicomot lebih dulu. Gorengan adalah makanan pengganjal perut yang sedang lapar. Menikmati gorengan akan lebih enak lagi bila dimakan dengan cabe rawit atau sambal kecap cabe rawit.

Pada bulan puasa, ternyata kebanyakan orang kita lebih suka berbuka puasa dengan  makanan asin ketimbang yang manis. Coba saja anda perhatikan, jika di meja makan tersedia kurma dan gorengan, maka makanan yang diambil pertama kali kebanyakan adalah gorengan. Kurma sendiri kurang begitu “laku”.

Padahal ada hadis Nabi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis”. Jika di negara-negara Arab maksud makanan yang manis itu adalah kurma, tapi karena di Indonesia bukan tempat tumbuh pohon kurma, maka kurma diganti dengan kolak pisang atau makanan manis lainnya.

Memang kolak manis itu juga menjadi ciri hidangan pembuka puasa di tanah air, tetapi jika ia hadir berdampingan dengan gorengan, maka secara psikologis ketika orang lapar makanan yang diambil pertama kali adalah gorengan yang asin itu sebagai pembuka puasa, baru kemudian makan kolaknya.

Meski gorengan itu kurang sehat, ternyata orang Indonesia adalah pencinta gorengan sejati. Asal jangan sering-sering saja sebab kandungan kolesterolnya tinggi.(Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *