Sabtu, 16 Desember 17 | 10:14 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Bapak Tua Penjual Keripik Singkong

Bapak Tua Penjual Keripik Singkong
* Penjual keripik singkong di Bandung. (Foto: Dok. Rinaldi Munir)

Di sekitar jalan di belakang Gedung Sate, Bandung, ada seorang bapak tua yang sudah aki-aki berjalan tertatih-tatih memikul dagangan keripik singkong. Dia memakai tongkat besi berkaki tiga (yang biasa digunakan oleh orang-orang yang terkena stroke). Saya yang biasa melewati jalan itu setiap hari dari rumah ke kantor tidak tega melihatnya.

Entah mengapa, setiap kali melihat orang-orang tua menjajakan dagangan, perasaan saya langsung terenyuh. Iba. Saya hentikan sepeda motor beberapa meter di depannya, lalu menunggunya berjalan lebih dekat. Kecepatan jalannya kira-kira satu langkah dalam empat detik. Benar-benar sangat pelan.

Setelah dekat, saya hentikan dia dengan kode mau membeli. Saya tanya berapa harga sebungkus keripik singkong itu. Rupanya dia agak susah mendengar. Sebuah alat bantu dengar terpasang di telinganya. Setelah saya tanya beberapa kali, barulah dia menjawab Rp13.000 satu bungkus. Saya beli saja dua bungkus dan sisa uang kembalian tidak saya minta lagi.

Saya tanya pak aki dari mana, dia menjawab dari Malangbong, Garut. Jadi keripik singkong itu dibawa dari Malangbong, lalu dijual di Bandung. Saya tidak menanyakan apakah dia bolak-balik membawa keripik singkong itu dari Malangbong ke Bandung, atau ada orang yang memasoknya dari sana lalu bapak aki ini menjualkan saja. Wallahu ‘alam.

Menurut beberapa orang yang pernah melihatnya, bapak aki sudah rutin berjualan keripik singkong di seputaran belakang Gedung Sate.  Saya memang baru kali ini menemukannya. Dalam hati saya berkata, sudah tidak sepatutnya bapak aki berjualan seperti ini. Dengan kondisi fisiknya yang lemah dia harus berjualan makanan yang tidak seberapa besar untungnya itu. Bapak aki seharusnya berada di rumah bermain dengan cucu, tetapi entahlah, kebutuhan hidup mungkin membuat bapak aki harus turun ke jalan tertatih-tatih mencari nafkah di kota besar.

Sesungguhnya saya tidak terlalu membutuhkan keripik singkong ini. Di rumah masih banyak camilan seperti keripik itu. Namun, niat saya membelinya lagi-lagi karena kasihan semata. Bapak aki tidak mengemis, dia masih punya harga diri. Menurut saya, cara membantu orang-orang lemah seperti bapak aki adalah dengan membeli dagangannya. Itu sangat membantu sekali.

Banyak orang kecil dan lemah seperti bapak aki ini saya temui di jalan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah waktu bulan puasa yang lalu, di trotoar Jalan Supratman saya melihat seorang laki-laki menggendong anak perempuan di bahunya. Sembari menggendong anak, di tangannya ada beberapa barang jualan berupa sapu lidi untuk membersihkan kasur.  Refleks saya tepikan motor, lalu memanggilnya. Lagi-lagi saya tidak tega melihat pemandangan seperti ini. Meskipun di rumah saya sudah ada sapu lidi semacam itu, namun saya beli juga.

Saya ajak dia mengobrol. Laki-laki itu tinggal di Majalaya, Bandung Selatan. Setiap hari dia berjalan kaki di kota Bandung menjajakan sapu lidi. Anak perempuan itu adalah anak kandungnya, ke mana-mana selalu dibawa serta karena ibunya sudah bercerai dengan dirinya. Di Majalaya dia mengontrak sebuah kamar, di sanalah dia tinggal berdua dengan anak semata wayangnya. Karena tidak ada yang menjaga anaknya, maka setiap hari selalu dibawa berualan.

Sudah empat tahun begini, katanya datar.

Uang kembalian membeli sapu saya serahkan ke anaknya. Buat jajan dan buka puasa nanti, kata saya meninggalkan mereka.

Saya hanya bisa membantu orang-orang kecil seperti itu dengan cara membeli dagangannya. Meskipun kita tidak terlalu membutuhkan barang dagangannya saat ini, namun percayalah, dengan membeli dagangan mereka, kita sudah memperpanjang hidup mereka. (Rinaldi MunirDosen Teknik Informatika ITB)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *