Senin, 11 Desember 17 | 12:46 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian Terakhir dari 3 Tulisan)

Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian Terakhir dari 3 Tulisan)
Photo Credit To Peluncuran buku “Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’” di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2016). (Foto: (Kompas.com/David Oliver Purba)

Ahok Ingkar Janji

Pada pertengahan Maret 2016 Teman Ahok melakukan pengumpulan kembali KTP dari awal. Kali ini di formulir dukungan KTP terpampang foto Ahok-Heru. Secara mengejutkan dalam waktu tiga bulan perolehan KTP melampaui target sejuta pada Minggu (19/6/2016), yakni 1.024.632. (Baca: Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian 1))

Perolehan KTP yang fantastis tersebut membuat Ahok bertekad bulat maju di Pilkada DKI 2017 lewat jalur independen. Ahok berjanji tidak akan meninggalkan relawan Teman Ahok yang telah bersusah payah mengumpulkan KTP.

“Teman Ahok enggak mudah kumpulkan 1 juta KTP. Kalau saya disuruh pilih, pilih Teman Ahok tapi gagal jadi gubernur atau jadi gubernur tapi tinggalkan Teman Ahok? Saya pilih gagal jadi gubernur saja,” kata Ahok di hadapan seluruh pendiri Teman Ahok dan warga Jakarta yang hadir dalam perayaan pengumpulan 1 juta KTP di markas Teman Ahok, Graha Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (19/6/2016) sore.

Sebelum tercapai sejuta KTP, tiga parpol telah menyatakan dukungannya pada Ahok untuk maju lewat jalur independen, yakni Nasdem, Hanura, dan Golkar. (Baca: Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian 2))

Namun, Ahok ternyata tak konsisten dengan ucapannya. Maju lewat jalur independen ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Sejumlah peraturan dari KPU membuatnya galau, antara lain proses klarisifikasi KTP memakan waktu lama, dan berpotensi membuat dirinya tak bisa mengikuti Pilkada.

Ahok kemudian memutuskan maju lewat jalur parpol. Ia meninggalkan Heru, dan berduet dengan Djarot Saiful Hidayat. Pasangan Ahok-Djarot diusung PDI-P, Nasdem, Hanura, dan Golkar. Duet Ahok-Heru secara resmi dideklarasikan pada Selasa  (20/9/2016).

Ahok-Djarot bersaing dengan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Agus-Sylvi diusung Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB. Sedangkan Anies-Sandi diusung Gerindra dan PKS.

Agus-Sylvi mendapat nomor urut 1, Ahok-Djarot memperoleh nomor urut dua, dan Anies-Sandi mendapat nomor urut 3.

Ahok-Djarot Tumbang

Pemungutan suara dilakukan pada 15 Februari 2017. Kubu Ahok-Djarot menargetkan menang satu putaran. Tetapi, kenyataan tak semanis harapan.

KPU DKI  Senin (27/2/2017) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi memperoleh  937.955 suara atau 17,05%, Ahok-Djarot (nomor urut 2) mendapat 2.364.577 (42,99%} dan Anies-Sandi (nomor urut 3) memperoleh  2.197.333 ( 39,95%).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada Rabu (19/4).

Di pemilihan putaran kedua, Rabu (19/4/2017), di luar dugaan Ahok-Djarot tumbang. Quick count yang dilakukan hampir semua lembaga survei memenangkan Anies-Sandi. Sementara itu hasil final real count KPU DKI Jakarta menunjukkan Anies-Sandi memperoleh 57,95 persen suara atau 3.239.668 suara, dan Ahok-Djarot meraih 42,05 persen atau 2.350.887 suara.  (arh)

 

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *